TAKWA : MEMBANGUN KEMANUSIAAN

Oleh : KH. Dr. Amir Faishol Fath, MA

Salah satu tujuan syari’ah “Maqashidusy syari’ah”  adalah menjaga jiwa “hifzhun nafs”. Dengan kata lain membangun kemanusiaan. Maka, segala yang merusak jiwa dalam Islam diharamkan. Seperti, bunuh diri ataupun membunuh orang dengan cara yang dzalim itupun diharamkan karena dapat merusak jiwa. Allah SWT berfirman :

وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلِكَةِ

janganlah kamu jatuhkan ( diri sendiri ) kedalam kebinasaan “ ( Q.S. Al-Baqarah : 195 )

                Karenanya, dalam situasi yang akan menyebabkan hancurnya jiwa syari’ah hadir untuk memberikan solusi. Jika, ternyata tidak ada solusi kecuali dengan cara yang tidak dibolehkan ( haram ) maka itu, dikatagorikan sebagai darurat. Al-Qur’an telah meletakkan dasar-dasar berpikir,  supaya ummat ini tetap menyelamatkan jiwanya. Antara lain, sebagai berikut :

  1. Dalam Surah Al-Baqarah : 185 Allah berifirman :

يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”

2. Tentang dibolehkannya melakukan yang tidak boleh dalam kondisi darurat dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah : 173

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا اِثْمَ عَلَيْهِ

siapa terpaksa ( memakannya ) bukan karena menginginkannya dan tidak ( pula ) melampaui batas. Maka, tidak ada dosa baginya”

3. Dibolehkannya makan yang dilarang ( haram ) karena lapar, dan tidak ada pilihan lain dan bukan karena ingin melanggar simak dalam Surah Al-Maidah : 3

فَمَنِ اضْطُرَّفِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَا نِفٍ لِّاِثْمٍ فَاِنَّ اللهُ غَفُوْرُ رَّحِيْمٌ

siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa. Maka sungguh,  Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang “

4. Dalam Hadits Rasulullah saw, bersabda لا ضرر ولا ضرار  tidak boleh menyebabkan bahaya bagi orang lain, dan tidak boleh membahayakan dirinya sendiri ( H.R Ibn Majah : 2340, Sahih )

Dari dalil-dalil diatas, lahirlah berbagai kaidah fikih yang bisa dijadikan landasan. Bagaimana

menjaga jiwa ini, sebagai tujuan syari’ah. Antara lain, sebagai berikut :

  1. kaidah Fikih        :  الضرر يزال   “ semua yang membahayakan harus dihindari “
  2. kaidah Fikih        :  درء المفاسد مقدم على جلب المصالحmenghindari bahaya lebih diutamakan, dari pada mengambil manfaat “
  3. kaidah Fikih        : الأمر إذا ضاق اتسع  “ segala sesuatu jika sempit, maka menjadi luas “
  4. kaidah Fikih        : الحكم يتبع المصلحة الراجحة     “Hukum itu, mengikuti mashalahat yang lebih kuat “
  5. kaidah Fikih        : الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما  “ ada tidaknya hokum, tergantung illah ( sebab ) nya “

Berdasarkan semua itu, kita mengerti bagaimana Islam menjaga jiwa. Betapa mahalnya jiwa dalam ajaran Allah swt, bahwa kita bertanggung jawab untuk menjaga jiwa ini. Jika suatu saat kita berhadapan dengan situasi yang akan menyebabkan bahaya pada jiwa, seperti menyebarnya wabah corona yang sedang kita alami sekarang. Maka, kita sudah mempunyai pijakan sebagai berikut :

1. Antara mejalankan kewajiban, atau menjaga jiwa seperti sholat dalam kondisi perang. Maka itu tidak mungkin bisa, kita harus tetap sholat dengan cara yang telah dipandukan dalam sholat khauf.

2. Antara menjalankan Ibadah yang hukumnya wajib, tetapi bisa diganti dengan ibadah lainnya atau menjaga jiwa, seperti sholat jum’at dimasjid, atau sholat dzuhur dirumah. Maka, boleh memilih sholat dzuhur dirumah demi kemaslahatan jiwa

3. Antara menjalankan amalan, yang hukumnya Sunnah atau menjaga jiwa seperti sholat berjama’ah dimasjid. Maka, boleh sholat dirumah saja jika kehadiran dimasjid akan membahayakan jiwa.

                Justru, termasuk bertakwa kita menjaga jiwa. Sebab, ini perintah Allah swt janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam bahaya. Seperti pada ayat diatas, dan dicontohkan oleh Nabi Saw sebagai berikut :

عَنِ النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ : إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُوْنِ بِأَرْضِ فَلَا تَدْخُلُوْهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضِ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوْا مِنْهَا

jika kamu mendengar wabah Tha’un disebuah tempat, janganlah memasukinya. Sebaliknya, jika kamu berada disebuah tempat yang sudah terjangkit wabah Tha’un janganlah keluar dari tempat tersebut”      ( H.R Bukhari )

                Apakah ketika Nabi saw, mengajarkan ikhtiar seperti itu dianggap tidak beriman dengan takdir ? apakah ketika anda mencemplungkan diri dalam bahaya baik bagi diri anda maupun orang lain? Itu bukti bahwa anda lebih beriman dari pada Nabi saw.

                Atau, apakah ketika Umar r.a lemah imannya kepada takdir Allah dan ia berkata “ kita hindari tempat  yang ada Wabah Tha’un, pindah ketempat lain “

                Takwa artinya melakukan ikhtiar semaksimal kemampuan untuk menjaga jiwa. Yang haram saja boleh dilakukan, dalam kondisi darurat untuk menjaga jiwa. Apalagi yang ada pilihannya seperti sholat Jum’at atau sholat dzuhur atau yang hukumnya Sunnah sekalipun, seperti sholat berjama’ah dimasjid atau dirumah.

                Mungkin ada yang berkata “mengapa kita hebohkan masalah kemasjid ? sementara ke mall atau tempat maksiat tidak dihebohkan ?”

                Ingat, bahwa kondisi virus corona ini sedang serius. Dan sangat membahayakan jiwa, tujuan syari’ah adalah menjaga jiwa. Jika, kemasjid akan mengakibatkan rusaknya jiwa karena bercampurnya dengan orang banyak disana, maka lebih diutamakan jangan pergi kemasjid. Bukan maksud meremehkan masjid, tetapi karena situasi yang tidak memungkinkan dengan ketentuan hukum ini.

                Seharusnya, setiap orang faham bahwa kalau kemasjid saja sebaiknya dihindari apalagi ke mall yang tidak ada tujuan ibadah disana. Lebih tidak boleh lagi pergi ketempat-tempat yang berdosa, seharusnya begitu kita memahami hukum diatas. Wallahu’alam biishowab.

TAKWA: JALAN SUKSES DUNIA AKHIRAT

Oleh KH. DR. Amir Faishol Fath, MA

Allah swt membagi hidup manusia dengan dua tahap : dunia dan akhirat. Kata dunia berasal dari kata   دنا يدنو artinya dekat. Serba sementara, dan tidak lama. Di dunia, semua makhuk pasti berakhir. Tidak ada yang abadi. Oleh sebab itu, setiap kali membeli makanan atau obat-obatan selalu ditulis tanggal expaired. Artinya apapun di dunia akan musnah cepat atau lambat. Ini bukti bahwa, manusia harus cerdas.

 Nabi berdsabda : “orang cerdas adalah orang yang berhasil mengendalikan nafsunya dan menyiapkan hidup sesudah mati. الكيس من دان نفسه وعمل لمت بعد الموت . Maka ia akan menyiapkan apa saja yang akan dibawa pulang menuju kematian. Kematian adalah langkah awal pindah ke akhirat. Jadi, orang yang mati otomatis ia sudah mengalami Kiamat dan sudah pindah ke alam lain itulah barzah sebagai tahap awal dari kehidupan akhirat”

Adapun kata akhirat الآخرة artinya akhir kehidupan. Tidak ada mati lagi setelah itu. Syarat untuk pindah ke akhirat harus mati lebih dahulu, dan harus dunia dihancurkan. Peristiwa kematian dan hancurnya dunia disebut sebagai Kiamat.

 ada ungkapan yang sangat terkenal : “من مات فقد قامت قيامته” Siapa yang mati otomatis dia telah mengalami kiamat.

Segala penyesalan hanya berakhir di sana. Ia tidak bisa memperbaiki lagi apa yang telah ia lalui, Ketentuan Allah berlaku bahwa dunia, hanya untuk amal tanpa balasan. Adapun akhirat, tempat menuai balasan tanpa amal. Maka, hanya dengan bersungguhh-sungguh beramal baik selama di dunia kebahagiaan akhirat akan dicapai.

 Sungguh, celaka orang yang telah menyaia-nyiakan kesempatan hidup di dunia dengan dosa dan maksiat. Padahal, kehidupan dunia adalah tahapan persiapan untuk membangun akhirat. Tetapi, aying banyak orang tidak menyadari hakikat ini. Sehingga dunia hanya dilalui begitu saja tanpa makna untuk akhiratnya.

Allah swt. Berfirman :

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ

“  yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al Mulk :2) “

Takwa artinya bersungguh-sungguh melakukan amal yang paling baik “ahsanu amalaa” untuk menjadai bekal menuju akhirat. Orang yang cerfdas pasti  bertakwa. Sebab, ia tahu tabiat perjalanan.

Pepatah mengtakan : sedia payumg sebelum hujan. من عرف بعد السفر استعد  “Siapa yang tahu bahwa perjalan yang akan ditempuh sangat jauh maka pasti ia akan bersiap-siap”.

 Orang yang bertakwa, benar-benar menyadari bahwa perjalanan ini menuju akhirat. Maka ia benar-benar mempersiapkan amal salih sebaik-baiknya. Sebab hanya amal salih yang bisa bermanfaat kelak setibanya di akhirat.

Orang-orang kafir tidak beriman adanya alam akhirat. Baginya, kehidupan ini hanyalah dunia. Maka jadikan dunia sebagai tujuan. Ia lakukan segala cara untuk merebut dunia. Akibatnya,  ia pasti akan menyesal nanti setibanya di akhirat. Allah swt. berfirman :

وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

Mereka berkata, “Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” ( QS. Al Mulk : 10)

Benar, orang-orang kafir itu menyesal. Karena selama di dunia mereka tidak menggunakan akalnya. Seandainya mereka mau berikir sejenak, niscaya mereka akan berkata bahwa alam semesta ini pasti ada yang punya. Dialah Sang pencipta. Lalu ia akan berkata : “sang pencipta pasti punya tujuan dan aturan. Sebab sebauh perusahaan saja mempunyai tujuan dan aturan”

 Dari sini ia akan mencari mana tujuan dan aturan hidup dia muka bumi ini. Kalau sejenak saja ia mau mencari pasti akan mendapatkan jawaban itulah Islam.

Takwa artinya ikut Islam dengan sebenar-benarnya secara lengkap. Bukan hanya ikut Islam di masjid sementara di kantor ikut hawa nafsu. Bukan hanya menjadi muslim namanya saja, sementara perbuatannya tidak ada bedanya dengan orang kafir, seperti korupsi, menipu, berzina, makan riba dan sebagainya. Islam adalah jalan hidup secara utuh. Maka, jika ingin manjadi seorang muslim jadilah muslim yang lengkap, Inilah makna ayat : 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً  ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“ Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”  ( QS. Al Baqarah 208)

BERTAKWA ADALAH KENISCAYAAN

Oleh KH. DR. Amir Faishol Fath, MA.

Setiap manusia wajib bertakwa kepada Allah. Sebab takwa artinya bersungguh-sungguh ikut Allah swt. Mengapa kita harus ikut Allah swt? Sebab, Dia-lah pemilik alam semesta dan Dia-lah pemilik semua manusia. Sebagai makhluk yang berakal manusia harus mentaati aturan-Nya. Ibarat perususahaan, siapapun yang terdaftar di dalamnya wajib ikut aturan yang telah ditetapkan.

Dalam Al-Qur’an telah dipastikan, beberapa kondisi kerena ketakwaan para hamba Allah swt :

  • Pertama, Allah swt.memastikan bahwa syarat untuk ikut Al Quran adalah mempunyai kualitas takwa.

Allah swt. berfirman dalam surah Al Baqarah : 2 

ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين

Inilah Al Quran, tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Mengapa hanya yang bertakwa yang Allah sebutkan di sini? Mengapa Allah tidak menyebutkan petunjuk bagi orang yang beriman?

 Para ulama tafsir menjelaskan bahwa banyak mereka yang mengaku beriman, kepada Al-Qur’an. Tetapi, kenyataannya tidak ikut apa kata Al-Qur’an. Lihatlah, mereka tidak takut berzina, korupsi, berbohong, menipu dan sebagainya. Padahal, mereka tahu itu semua diharamkan dalam Al-Qur’an. Di sini kita mengerti mengapa Allah swt. hanya menyebutkan mereka yang bertakwa? Sebab, hanya mereka yang bertakwa itulah yang siap ikut aturan Al-Quran secara utuh.

  • Kedua, Allah menegaskan bahwa syarat untuk menadapatkan kemenangan adalah harus bertakwa.

Allah berfirman tentang kisah Nabi Musa a.s : 

والعاقبة للمتقين

“ Dan kemenangan hanyalah bagi mereka yang bertakwa “ (QS. Al Araf 128) .

Suatu hari Umar bin al Khaththab ra. pernah berpesan kepada pasukan Al Qadisyah : “bertawalah kalian kepada Allah, sebab kalian ditolong oleh Allah swt. karena dosa-dosa musuh kalian. Maka apabila kalian melakukan dosa yang sama, kalian akan berhadapan dengan kekuatan musuh tanpa pertolongan dari Allah swt. “

Ini pesan yang sangat menentukan. Bahwa tidak mungkin semua kemenangan terjadi tanpa pertolongan Allah swt.

  • Ketiga, surga sebagai tempat kebahagaiaan abadi hanyalah dipersipakan bagi mereka yang bertakwa.

Dalam surah Ali Imran 133, Allah berfirman :

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

” Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga, yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa “

Dalam surah An Naba’ 31,  dipertegas lagi :

اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan” Generasi pertama umat ini menang karena mereka bertakwa. Padahal, ketika itu mereka tidak memegang laptop, pesawat terbang,  Handphone dan sebagainya. Silahkan, kita yang hidup di zaman akhir, dengan segala fasilitas teknologi yang canggih. Itu semua tidak akan pernah membantu keberkahan kita, tanpa kita bertakwa kepada Allah swt.

(wallahu a’lam bishsowab).

TAKWA MEMBANGUN PERSAUDARAAN

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Allah swt. berfirman :

 يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصا دقين

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bergabungkan dengan orang-orang yang jujur. (QS. At Taubah 119)

Ayat ini menjelaskan agar orang beriman dan bertakwa. Tetapi yang menarik adalah perintah Allah swt. berikutnya : ” wa kuunuu ma’ashsshaadiqiin “. (bergabunglah dengan orang-orang yang jujur).  Bahwa untuk membangun kualitas takwa ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi :

  1. Iman yang jujur. Karena itu yang Allah panggil adalah orang-orang beriman. Sebab,  tidak cukup seorang hanya mengaku beriman. Melainkan,  harus membuktikan imannya secara nyata, dalam bentuk perbuatan. Berupa ketaatan kepada Allah swt. menjauhi laranganNya dan bersungguh-sungguh mengajak orang lain agar ikut beriman. Seorang mukmin harus punya sikap tersebut karena telah tercelup dalam warna iman.

صبغة الله ج ومن احسن من الله صبغة  صلى  ونحن له عبدون

                “ sibghah Allah “ Siapa yang lebih baik dari Sibghah­-nya daripada Allah ? dan KepadaNya kami menyembah  . ( QS. Al Baqarah : 138)

                Seorang mukmin tidak boleh menjadi seperti orang plin-plan. Tidak jelas. Ikut-ikutan orang kafir. Warna yang paling kontras dari tampilan seorang mukmin adalah takwa. Sekalipun secara nyata orang-orang beriman itu membaur dalam pergaulan dunia. Tetapi,  ia berbeda karena prinsip-prinsipnya yang jelas. Apa yang Allah halalkan, ia lakukan dan apa yang Allah haramkan ia jauhi. Sebab, agama Islam yang mereka anut bukan karangan mereka sendiri. Satu huruf pun mereka tidak boleh campur tangan dengan mengubah teks Al-Qur’an dan Al Hadits sebagai buku panduannya.

                2. Bertakwa, yang artinya berhati-hati dari dosa. Seorang mukmin pasti takut berbuat dosa. Ia yakin bahwa sekecil apapun dosa pasti nampak bagi Allah swt. :

                فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره 

                “ Siapa berbuat baik sekecil zarrah pun, Allah pasti melihatnya, dan siapa berbuat buruk sekecil zarah pun Allah pasti melihatnya.” (QS. Az Zalzalah 7-8)

                Dalam ayat lain :

                يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور

                “ Allah mengetahui   kemana mata ini berkhianat  dan Allah  juga tahu   apa yang tersembunyi  dalam dada”  (QS. Ghafir 19)

                Artinya tidak mungkin seseorang bersembunyi dari Allah swt. Kelak di hari Kiamat Allah langsung yang akan menghisab kita. Allah berfirman :

                يوم يقوم الناس لرب العالمين

                “ Pada hari itu orang-orang berdiri di hadapan Allah Pemilik alam semseta ” (QS. Almuthafifin : 6

                Berdiri disini makasudnya,  mempertanggungjawabkan segala amal yang telah diperbuat selama di dunia.

                Takwa artinya menyadari makna ini dengan sedalam-dalamnya. Bahwa, tidak mungkin kita berpura-pura dengan Allah swt. Silahkan di dunia seseorang mengemas dosa , dan kezalimannya dengan berbagai cara pencitraan. Boleh jadi, banyak orang tidak tahu hakikatnya tetapi Allah swt. pasti mengetahui semua itu. Maka, orang beriman yang bertakwa tidak mungkin berbuat zalim, melakukan dosa-dosa besar seperti membunuh, berzina, berbohong, menipu dan sebagainya. Inilah hakikat takwa yang sebenarnya.

                3. Bergabung dengan orang-orang yang jujur. Dalam kata bergabung,  ada makna persaudaraan dan keberpihakan. Tidak mungkin seorang mukmin berbuat zalim pada sesama. Kepada orang lain yang beda iman saja tidak boleh apalagi kepada sesama beriman. Seorang mukmin adalah contoh peribadi yang menegakkan kedamaian. Dalam sejarah Islam, ketika umat ini memimpin seperempat dunia, tidak ada cerita bahwa satu tempat ibadah non muslim dihancurkan. Tidak ada rekaman bahwa satu non muslim diperlakukan secara tidak adil. Semua merasakan indahnya perdamaian dan kedamaian yang dicontohkan orang beriman.

Bahkan, mereka bersaksi bahwa kedamaian di bawah kepemimpinan orang-orang beriman telah membuat mereka terjamin. Sekarang, kita menyaksikan kenyataan terbalik. Mereka berupaya mencontoh peradaban Islam di negar-negara mereka, sekalipun mereka tidak mengambil konsep imannya, sementara orang-orang beriman  malah memperakterakan kedzoliman dan keindikatoran. Padahal seharusnya, mereka tinggal mencontohkan pendahulunya yang telah berhasil mengamalkan islam secara utuh.

                Dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Inilah makna ayat :

إنما المؤمنون إخوة فاصلحوا بين أخويكم واتقو الله لعلكم ترحمون

sesungguhnya orang-orang yang beriman pasti bersaudara, maka hendaklah meraka melakukan perbaikan diantara sesama saudara kalian. Dan bertakwaklah agar kalian mendapatkan Rahmat “ ( Q.s Al-Hujrat : 10 )

BERTAKWA KARENA AKU BUTUH ALLAH

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Tidak akan pernah habis kata takwa dibahas. Sebab semua inti pesan Al-Qur’an adalah mengajak agar kita bertakwa. Seorang mungkin bertanya mengapa setiap khatib selalu mengajak bertakwa?  Tentu pertanyaan ini wajar. Sebab,  dahulu pernah juga Umar bin Khaththab seorang sahabat nabi saw.  bertanya mengenai hal sama. Apa itu takwa? Pertanyaan itu tak kunjung menemukan jawaban. Sampai kemudian,  ia bertemu dengan sahabat yang lain bernama Ubay bin Ka’ab ra.

Ubay seorang sahabat yang alim. Ia rujukan dalam ilmu Al-Qur’an. Pernah suatu hari surah Al-Bayyinah  turun kepada Rasulullah saw. Malaikat Jibril a.s Yang membawanya menyampaikan pesan dari Allah swt, agar surah tersebut dibacakan kepada Ubay. Tidak lama setelah itu, Rasulullah SAW menyampaikan kepada Ubay.  

“Wahai Ubay, aku diperintahkan Allah swt. agar membacakan surah ini kepadamu” kata Nabi.

“Surah apa itu wahai Rasul ? “ Tanya Ubay.

“Surah Al bayyinah “  jawab Nabi.

“Apakah namaku disebut wahai Rasul? “ Ubay kembali bertanya.

“Ya, namamu disebut  Allah swt. “ jawab Nabi.

Seketilka Ubay menangis terharu,  dan senang karena namanya dimuliyakan  Allah swt. Inilah kedudukan Ubay bin Ka’ab ra. Wajar kalau Umar bertanya kepadanya. Kedudukan Ubay yang tinggi tidak hanya secara keilmuan.  Tetapi juga di sisi Allah swt,  telah menempatkannya sebagai rujukan ilmu Al-Qur’an pada masa itu dan sepanjang masa. Kita lanjutkan kisah pertemuan Umar dan Ubay :

“ Wahai Ubay, apa itu takwa ? “ kata Umar

“ Apakah anda pernah melewati jalan yang penuh dengan duri wahai Umar ? Ubay balik bertanya.

“ Ya, pernah “ Jawab Umar.

“ Apa yang anda lakukan pada waktu itu ? “ kata Ubay.

“ Aku berhati-hati” Jawab Umar.

“ Itulah takwa wahai Umar “ jawab Ubay.

Menarik kita menyimak dialog ini. Ubay tidak langsung menjelaskan makna bahasa “takwa”. Melainkan,  dengan menggunakan perumpamaan. Bahwa, orang yang ingin paham apa itu takwa cukuplah anda posisikan diri seakan di atas sebuah jalan yang penuh duri.

Bayangkan, apa yang anda lakukan pada saat itu?. Pasti anda akan hati-hati jangan sampai duri itu menusuk tubuh anda. Pasti, anda akan menghindar dari tusukan duri. Pasti anda akan jinjitkan kaki jangan sampai duri itu menusuk kaki anda. Lalu yang menarik adalah jawaban Ubay, bahwa itulah hakikat takwa.

Subhanallah, sangat dalam makna yang dijelaskan Ubay. Bahwa,  takwa bukan sekedar kata-kata. Takwa adalah sikap. Takwa bukan sekedar pengakuan, melainkan sebuah tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang mengaku beriman tetapi tidak bertakwa. Karenanya Allah swt. memanggil yang beriman agar bertakwa.

 “ Yaa ayyuhalladziina aamanuu iitaqullah” (wahai orang yang beriman bertakwalah kepada Allah).  Artinya tidak cukup anda hanya mengaku beriman lalu dalam perbuatan anda tidak ada ketaatan kepada-Nya. Dari penjelasan Ubay, kita mengerti bahwa takwa adalah totalitas kehati-hati-hatian seorang hamba kepada Allah swt. jangan sampai berbuat dosa.  Allah tidak suka hamba-Nya melakukan dosa. Sebab dosa adalah bahan bakar neraka.

Siapapun yang cendrung berbuat dosa ia telah menyiapkan dirinya untuk masuk neraka. Takwa artinya tindakan nyata mentaati Allah swt, supaya tidak masuk neraka. Memang tabi’at manusia tidak bisa terlepas dari salah dan dosa.

 Rasulullah saw bersabda : “kullu banii aadam khaththaa’, wa kahirul khaththaaiin attawwaabuun” yang artinya : setiap anak Adam pasti akan terjatuh dalam dosa. Tetapi sebaik-baik orang yang jatuh dalam dosa ia segera bertaubat kepada Allah swt.

 Ingat, bahwa kita mentaati Allah bukan karena Allah butuh kita. Tetapi kitalah yang butuh dengan  Allah swt. Kita butuh agar segala urusan kita dimudahkan, kita butuh agar badan kita disehatakan,  kita butuh agar anak kita diluluskan dalam ujian. Ini semua karena ditentukan oleh Allah. Tidak ada kekuatan makhluk yang bisa memberikan jaminan atas semua itu.

Saudara, jangan sok merasa hebat karena anda sedang berkuasa, sedang kaya, sedang sukses karirnya, lalu seenak nafsu anda berbuat dosa. Ingat , semua itu dari Allah swt. Tidak ada yang abadi dari apa yang anda miliki. Semua akan berakhir.

Tadi pagi, kita mendengar artis fulan yang sedang naik daun tiba-tiba meninggal dunia. Kemarin konglomereta fulan meningak dunia. Sepekan yang lalu pengusaha fulan meninggal dunia. Sebelumnya raja fulan meninggal dunia. Apa arti semua itu, bahwa kita butuh Allah swt. Inilah kesadaran yang harus selalu kita tanamkan dalam hati. Inilah inti makna takwa yang selalu dipesankan khatib setiap hari Jum’at. 

Takwa adalah kejujuran ikut Allah swt. bukan basa-basi atau pura-pura atau pencitraan. Takwa adalah  kesungguhan menjauhi dosa seperti anda menghindari duri. Dari pesan di atas, kita paham bahwa Ubay r.a. mengumpamakan dosa bagaikan duri. Tentu tidak ada seorangpun di antara yang mau mata ini tertusuk duri, perut ini kemasukan duri, kaki ini terkenak duri. Anda pasti sepakat dengan pernyataan ini.

Maka, takwa adalah  kehati-hatian kita jangan sampai mata ini melihat yang Allah swt. haramkan seperti kita tidak suka duri menusuk mata kita. Takwa adalah kehati-hatian jangan sampai harta masuk ke perut kita, perut istri kita atau perut anak kita seperti kita tidak suka duri masuk ke perut tersebut. Takwa adalah kehati-hatian jangan sampai kaki kita melangkah ke tempat-tempat yang Allah haramkan seperti kita tidak suka duri menusuk kaki ini.

Kenyataanya, memang masih banyak dari kita yang sudah mengaku beriman belum bertakwa. Dalam keseharian kita masih sering mata ini melihat yang Allah haramkan, minimal sia-sia. Masih banyak dari saudara kita yang beriman,  tidak merasa malu makan harta hasil koruspsi.

Boleh jadi,  ia berkata “aku tidak makan harta hasil korupsi itu, tetapi hanya aku pakai buat kampanye”  Sama saja, itu semua haram.  Apa yang anda pakai,  sama dengan apa yang makan. Tidak ada bedanya. Semua adalah dosa, dan semua pasti akan dihisab oleh Allah swt. Dengarkan Allah berfirman : “inna ilainaa iyabahun tsumma inna ‘alaina hisaabuhum” (Sesunnguhnya mereka pasti akan kembali kepadaKu dan Aku pasti akan menghisab mereka).

PEMBERDAYAAN diri untuk ALLAH, MENGAPA? bagian 2

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

bagian 2 habis

Dan Kami jadikan malammu sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS. 78:10-11)

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamumencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (QS. 28:73)

Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerinthkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (QS.  7:54)

Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 31:29)

Tugas Utama Manusia: Memberdayakan Diri Untuk Allah

                Kata rizqan lakum (sebagai rezkiuntukmu) dan sakhkhara lakum (menundukkan untukmu) seperti pada ayat diatas telah mengesankan beberapa makna:

  1. Bahwa manusia adalah makhluk yang sangat Allah muliakan. Artinya ketika Allah menciptakan matahari, menurunkan hujan, menyediakan laut, sungai dan seterusnya itu semua tidak lain hanyalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Karenanya yang Allah panggil dalam Al Qur’an, untuk menjalankan tugas-tugas di bumi adalah manusia. Para Nabi Allah utus dari golongan manusia. Seruan yaayyuhannas atau yaayyuhalladzinan amanuu yang demikian banyak dalam Al Qur’an itu maksudnya manusia. Termasuk dhamir “kum” dalam ayat di atas arahnya kepada manusia. Dari segi bentuk fisik pun penciptaan manusia juga Allah pilihkan yang terbaik “ahsanu taqwiim”. Semua ini mengidentifikasikan pentingnya posisi manusia di atas bumi. Maka sungguh celaka manusia yang mengabaikan kemuliaan posisi ini lalu memilih posisi yang sangat rendah “asfala saafiliin”. Tunduk semata pada tutunan hawa nafsunya sehingga ia terjerembab dalam gaya hidup seperti binatang atau lebih rendah lagi “ulaaika kal an’aam balhum adhallu waulaaika humul ghaafiluun”.
  • Bahwa amanah penciptaan langit dan bumi diserahkan kepada manusia. Terserah untuk ia manfaatkan. Sebagai sarana pengabdian kepada Allah atau kepada syetan? Manusia diberi dua pilihan: jalan syukur atau kufur. Bila jalan syukur ia tempuh ia akan menjadi selamat di dunia dan akhirat. Sebaliknya bila jalan kufur yang dipilih ia akan menuai kecelakaan. Dalam surat Al Jatsiyah Allah menegaskan:”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.(QS. 45:13)

Perhatikan bahwa proses pemberdayaan ciptaan Allah ini sebagai rahmah (kasih sayang Allah) yang tak terhingga kepada manusia. Untuk apa? Supaya manusia beriman dan tunduk hanya kepadaNya. Dalam rangka ini manusia harus menggunakan akalnya. Itulah makna dari ayat: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.

        Surat Al Hajj lebih tegas lagi menggambarkan eratnya pemberdayaan ciptaan alam dengan keharusan sikap syukur, Allah berfirman:”Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS. 22:36). Mensyukuri nikmat yang sedemikian agungnya adalah bagian dari tugas utama manusia.

        Syukur artinya merasakan agungnya nikmat Allah dan menampakannya sebagai amanah yang harus dipikul sesuai dengan kehendak pemberinya. Kebalikan syukur adalah kufur. Kufur artinya melupakan nikmat yang diterimanya dan berusaha untuk mengingkarinya (lihat Ar Raghib, hal.461). perhatikan ayat “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) “kafartum”, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14:7).

  • Allah selalu mengajak manusia dengan pendekatan yang snagat mendidik dan persuasif. Kepada rasulNya pun mengajarkan “lasta alaihim bimusaithir”. Tidak ada unsur paksaan, melainkan dengan mengingatkan akan keagungan nikmat yang diberikan kepadanya. Itulah cerminan dari makna rizqan lakum dan sakhkhara lakum. Seakan ditampakkan didepan matanya bukti-bukti yang sangat dekat dengan dirinya dan begitu akurat, sehingga akalnya tidak bisa membantah. Karenanya pada ayat selanjutnya Allah berfirman: Dan jika kamu menghitung nikmat  Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Ungkap seperti ini terus diulang-ulang dengan gaya yang sangat indah,variatif dan menggelitik. Siapapun yang membaca Al Qur’an dengan mata hatinya akan tunduk bersujud, mempersaksikan dirinya sebagai hambaNya dan akan berakata seperti yang direkam dalam ayat:”Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:191) “Maha suci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya (QS. 43:13)
  • Bahwa setelah nikmat-nikmat  yang terjangkau jumlahnya itu, sekalipun dihitung dengan kalkukator yang paling canggih, ada tugas yang harus dipikul oleh manusia. Bahwa manusia kelak di Hari Kiamat, akan mempertanggung-jawaban sekecil apapun dari nikmat-nikmat tersebut. Kepada apa saja nikmat-nikmat itu digunakan? Karenanya selalu diingatkan dengan kata rizqan lakum dan sakhkhara. Supaya tersadar bahwa semua itu diberikan bukan sekedar pemberian tanpa makna. Bahwa semua itu diterima dengan segala konsekuensi yang harus direalisasikan. Bila proses realisasinya salah, ia akan menuai siksaan. Dan bila realisasinya sejalan dengan aturan Sang Pemberi ia akan menuai pahala yang setimpal. Dengan kata lain, setelah nikmat-nikmat itu diberdayakan untuk manusia secara maksimal, maka tidak ada pilihan bagi manusia kecuali memberdayakan dirinya untuk Allah semata. Sekecil apapun yang ia lakukan hendaknya selalu dalam rangka menegakkan ajaranNya, dalam diri, rumah, masyarakat dan negaranya.

                Hanya saja, sangat sedikit manusia yang menyadari hakikat “waqalilum min ibadiyasy syakuur”. Mereka lebih suka mengutamakan kepentingan dunia daripada akhirat: “bal tu’tsiruunal hayatad dunya”. Karenanya itulah pada ayat di atas Allah berfirman: Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

 Wallahu alam bishshawwab.

                Bila memillih yang kedua, berarti ia telah menentukan pilihan yang paling tepat untuk dirinya dan untuk keseimbangan hidup di alam.

                Benar, Allah tundukkan semua yang di langit dan di bumi untuk manusia sebagai rahmat. Mengapa sebagai rahmat? Sebab ternyata sekalipun telah Allah tundukkan semuanya itu masih banyak manusia yang tidak tunduk kepadaNya. Kendati demikian Allah pernah kapok, Ia tetap melakukan itu. Dan dengan melihat kesungguhan Allah dalam memberdayakan segala sesuatu untuk manusia, manusia akan bahagia.

Wallahu ‘alam bishshawwab

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

PEMBERDAYAAN diri untuk ALLAH, MENGAPA? bagian 1

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Bagian 1 dari 2

                Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat  zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. 14:32-34)

Makna Taskhir (Pemberdayaan)

                Dalam ayat di atas kita temukan kata sakhkhara berulang-ulang. Dari kata sakhkhara kata taskhir diambil. Imam Al Asfahani menyebutkan makna taskhir adalah “pemberdayaan sesuatu untuk tujuan tertentu secara paksa (tanpa alternatif). (Lihat Arraghib, Mufradat alfadzil Qur’an, (Damaskus, Darul Qalam 1992) h. 402). Dikatakan secara paksa (qahran) karena bagi sesuatu yang ditundukkan as sukhriy tidak ada pilihan kecuali mengikuti kehendak dan keinginan yang memberdayakannya. Dengan mengikuti terjemahnya Al Qur’an versi Depag kata sakhkhara diarikan menundukkan. Dalam Al Qur’an setiap kali disebut kata sakhkhara, hampir selalu dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa segala ciptaan Allah di langit dan dibumi ditundukkan untuk mengikuti system “sunnatullah” yang telah  Allah letakkan.

                Kerapian alam semesta yang demikian mengagumkan ini, menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam ini telah Allah tundukkan: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang” (QS: 67:3) Allah mengajak dengan ayat ini agar manusia benar-benar menyaksikan dengan mata kepalanya betapa ciptaan Allah tidak ada yang  main-main. Perhatikan dan perhatikan sekali lagi jika masih ragu. Kau tidak akan pernah penemukan kerancuan dan ketidak seimbangan. Kalau masih ada sebagian sisi yang belum kamu lihat, coba lihat lagi dan sekali lagi. Sungguh tidak akan pernah ada yang tidak seimbang.

                Gaya ungkap yang sangat menantang dan meyakinkan tersebut, setidaknya mengindikasikan gambaran taskhir Allah yang sangat sempurna terhadap alam semesta dan segala isinya. Pun setidaknya ini membuat manusia semakin terhentak akan kelemahan dirinya. Apalagi ilmu pengetahuan yang dicapainya kian menampakkan kenyataan dari sebagian sisi yang sangat luar biasa itu. Tidak ada pilihan sebenarnya bagi manusia kecuali  harus tunduk secara total kepada Allah sebagai hambaNya. Allah berulang-ulang menegaskan hakikat taskhir ini dalam Al Qur’an,pada hakikat untuk menguatkan makna kehambaan ini. Bahwa manusia diciptakan bukan untuk menandingi kemahadahsyatan Allah SWT,  sebab ia dengan segala yang terdahsyat dari kemampuannya tidak lebih dari hanya karuniaNya.

                Dengan menyaksikan keagungan ciptaan ini, hati manusia ssecara perlahan akan terbuka,untuk kelak bisa menerima cahaya keimanan secara sempurna. Dengan kata lain, taskhir adalah sunnatullah dalam segala wujud. Tanpa taskhir kehidupan di alam ini dipastikan telah berakhir. Tak terkecuali manusia, ia harus mengikuti proses taskhir ini secara seksama. Dan tidak ada aturan taskhir yang paling sempurna dan menentukan bagi keselamatan hidup manusia kecuali aturan Allah SWT. Sebab Dialah Sang Pencipta, maka Dialah yang paling berhak menentukan aturan sesuai dengan tujuan yang diinginkanNya.

Beberapa Bukti Keharusan “Taskhir”

                Ada beberapa bukti dalam ayat di atas bahwa Allah memberdayakan ciptaannya di langit dan di bumi untuk kebutuhan manusia:

  1. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu”. Disini di tegaskan bahwa langit yang demikian agung ini, ditegakkan tanpa tiang, bumi dengan segala isinya, pun hujan yang sedemikian sistematis Allah turunkan, semuanya tidak lain sebagai rezki bagi manusia. Kata rezki sering kali dipahami sebatas hasil usaha yang dilakukan seseorang. Ayat di atas menggambarkan bahwa rezki meliputi setiap nikmat yang kita terima dari Allah SWT.  penciptaan langit, bumi dan semua galaksi, termasuk perputarannya secara sistematis, yang menyebabkan turunnya hujan dan tumbuhnya pepohonan, adalah rezki yang sangat agung tapi sering manusia lalaikan. Diantara rezki yang paling nampak dimana manusia tidak akan pernah mampu membikinnya dengan alat teknologi yang paling canggih sekalipun, adalah buah-buahan “tsamaraat”. Buah yang dihasilkan dari pepohonan ini hanya Allah-lah yang mengatur prosesnya secara alamiyah. Tidak ada seorang pun yang mampu bisa mendatangkannya tanpa proses alamiyah tersebut.
  • Diantara yang Allah tundukkan adalah kendaraan manusia di lautan: “Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya”, benar manusia dengan kemampuannya bisa membikin bahtera. Tetapi bahtera tersebut akan tenggelam kapan saja. Sebuah kapal laut raksasa “Titanic” yang diyakini pembuatnya tidak akan pernah tenggelam kapan saja. Sebuah kapal mengalami kondisi yang sangat mengenaskan. Air laut menelannya di luar kemampuan segala upaya yang telah dilakukan para awak untuk menyelamatkannya. Tidak hanya kendaraan di lautan, di udara pun Allah yang menundukkannya. Kecanggihan tehnologi yang dicapai manusia modern dalam pembuatan kapal udara memang telah memperlihatkan bukti yang sangat mengagumkan. Tetapi itu semua harus tetap diyakini sebagai bukti kekuasaan Allah, bukan semata kehebatan manusia. Mengapa? Sebab Allah-lah yang menundukkan kendaraan udara tersebut. Dan banyak bukti dan kendaraan udara yang jatuh karena kehendak Allah. Padahal menurut perhitungan manusia ia sudah diupayakan secara maksimal untuk tidak jatuh.
  • Sungai-sungai juga Allah tundukkan: “dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai “. Dari bumi dan batu-batu bila Allah berkehendak memancarlah air sungai.”diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya” (QS. 2:74). Perhatikan bagaimana Allah menceritakan kenyataan ini dengan sangat gambing. Manusia dengan kehebatan ilmunya belum pernah mampu menciptakan air. Apalagi memancarkan air sungai yang demikian banyaknya dari batu-batu, yang secara akal tidak mungkin ada air di dalamnya. Dengan air sungai tersebut manusia bisa memberi minum binatang ternak yang mereka pelihara, bisa menyiram pohon yang mereka tanam dan seterusnya yang pada intinya dengan air tersebut kehidupan manusia bisa berlanjut.”Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” (QS. 21:30).
  • Allah juga menundukkan matahari dan bulan:”dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya)”. Matahari dan bulan tersebut berputar pada porosnya. Seperti juga galaksi yang lain yang jumlahnya jutaan bahkan milyaran. Semua itu Allah ciptakan untuk mendukung kehidupan di bumi. Jika semuanya itu tidak Allah tundukkan niscayakehidupan di bumi sudah berakhir, bahkan mungkin tidakada sama sekali. Berbagai penemu ilmu pengetahuan membuktikan bahwa perjalan matahari dna bulan benar-benar telah tertata rapi dengan jarak yang sangat tepat. Bila terjadi pergeseran barang 1cm, itu akan menyebabkan kehancuran kehidupan di bumi. Allah tidak pernah main-main dalam menegakkan kehidupan di alam ini. Hanya sayangnya manusia selalu melalaikan hakikat ini,”Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. 36:40)
  • Allah juga tundukkan siang dan malam: “dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. Dengan adanya siang dan malam manusia bisa menjalani hidupnya secara simbang. Seandainya hidup ini siang saja, atau malam saja, bisa dipastikan manusia akan stress. Imam Syaf’i menyebutkan dalam syairnya: “andaikan matahari berhenti di ufuk timur selamanya, niscaya manusia akan bosan (stress) dimanapun berada”. Pernyataan Imam Syafi’i menggambarkan tabiat manusia. Bahwa manusia selalu menginginkan perubahan. Ia tidak bisa hidup di satu titik. Ia membutuhkan siang untuk mencari nafkah hidupnya, sebagaimana juga membutuhkan malam untuk istirahat.

Ikhlash Dasar Segala Amal

Oleh. KH. Dr. Amir Faishol Fath, MA

            Kalimat berikutnya berbunyi : Wasaturadduuna ilaa ‘aalimil ghaib wasy syahadah, Ibn Abbas mengatakan, al ghaib yang dirahasiakan, dikerjakan secara sembunyi-sembunyi, dan asy syahadah yang dikerjakan secara terang-terangan. Imam Ar Razi berkata: al ghaib bisa dimaksudkan segala yang terdetik dalam hati berupa niat baik atau buruk, dan asy syahadah adalah segala perbuatan yang diragakan (lihat Imam Ar Razi, mafaatihul ghaib, vol. 16 h.194). dari sini nampak bahwa setiap perbuatan harus senantiasa serasi antara niat dan tingkah laku. Hilangnya keserasian ini akan melahirkan ketimpangan, kalau tidak dikatakan sia-sia sama sekali. Bila direnungkan secara mendalam panduan utuh antara fasayaraallahu amalakum, wasaturadduuna ilaa ‘aalimilghaibi wasy syahadah maka akan tergambar bahwa niat sebagai pengantar setiap perbuatan harus karena Allah dan untuk semata mencapai ridlaNya, karena Dialah yang akan menilainya.

Dengan demikian nampak bahwa setiap perbuatan terdiri dari dua unsur: niat yang mengantarkan dan perbuatan yang diragakan. Niat saja tidak cukup melainkan harus tercermin dalam perbuatan. Perbuatan pun harus sesuai dengan petunjukNya bukan karangan akal sendiri. Perbuatan apa pun yang tidak sesuai dengan petunjukNya (baca: kemaksiatan) sekalipun dihantarkan dengan niat yang ikhlash juga tidak akan diterima di sisiNya. Sebaliknya perbuatan yang benar-benar syariah, tapi niat yang menghantarkannya tidak ikhlash juga akan menggiring pada kecelakaan. Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyebutkan tiga orang yang bersama-sama melakukan perbuatan baik secara dzahir,tetepi karena niatnya salah akhirnya ketiga-tiganya sama-sama masuk neraka: pertama seorang berperang di jalan Allah dengan niat supaya dibilang pemberani, kedua, seorang mengajarkan Al Qur’an supaya dibilang alim, ketiga, seorang menginfakkan hartanya supaya dibilang dermawan (lihat Sahih Muslim, no. 1514). Ustadz Sayid Quthub mengatakan: Islam adalah manhaj yang realistis,gelora niat dan semangat tidak akan berdampak apa-apa sepanjang tidak diterjemahkan dalam gerakan nyata,memang diakui bahwa niat yang baik mempunyai posisi tertentu dalam Islam, tetapi niat saja belum cukup untuk membangun pahala, sebab ia akan dihitung setelah tercermin dalam bentuk perbuatan, begiti perbuatan muncul di sini peranan niat menentukan kwalitasnya, inilah makna hadits: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantujng niatnya” perhatikan dalam hadits ini perbuatan digabung dengan niat bukan niat saja. (Sayid Quthub, fii dzilail Qur’an, (Bairut, Darusy syuruq, 1985),vol. 3, h.1709).

Keikhlashan (sihhatun niyah) dan benarnya perbuatan (sihhatul amal) adalah inti utama yang sangat menentukan. Keduanya adalah cerminan dari seluruh rangkaian kata dan kalimat dalam ayat di atas. Ibarat dua sayap bagi seekor burung ikhlash dan kebenaran amal akan mengantarkan pelakunya kepada tujuan yang didambakan. Sudah barang tentu seekor burung tidak akan bisa terbang hanya dengan satu sayap. Perhatikan bagaimana Allah mengencam seorang yang tidak shalat, padahal shalat adalah ibadah yang sangat mulia dan utama dalam Islam hanya karena niatnya salah, Allah berfirman: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan)barang berguna (QS. 107: 4-7).

Amal Sebagai Bukti Kepribadian

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Pada kalimat berikutnya Allah berfirman: fasayarallahu ‘amalakum, tidak ada sekecil apapun dari yang kita lakukan kecuali akan mendapatkan balasannya. Tidak ada kata yang terucap dari lidah, kecuali terekam secara lengkap: mayalfidzu minqaulin illa ladaihi raqibun atiid (QS.). Lebih kecil dari atom pun amal kita akan tetepmenjadi kredit poin dari perjalanan hidup kita. Bila perbuatan itu baik, simpanan amal baik kita di akhirat akan bertambah, dan bila perbuatan kita jelek, simpanan amal kita kan jelek. Famayya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah, wamayya’mal mistqaala dzarratin syarrayyarah. Jadi pribadi kita hanya ditentukan oleh kedua pilihan ini: Bila kita salah memilih kita akan sengsara selama-lamanya. Tapi bila pilihan kita benar, kita akan selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Itulah makna do’a yang selalu kita panjatkan: “rabbana aatina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannaar”(QS. 2:201).

Dengan menyadari hakikat ini, bila kita melakukan kebaikan, kita tidak akan risau,sekalipun tidak ada orang yang memuji kita. Bagi kita berbuat baik adalah cicilan membangun kebahagiaan akhirat. Apapun bentuk kebaikan tersebut. Kecil maupun besar, nampak hina di mata manusia atau tidak, dalam kesunyian maupun di tengah keramaian, menghasilkan uang atau tidak. Pribadi kita slalu nampak istiqamah, tidak beerwarna-warni. Popularitas bukan ukuran, karena hakikat fasayarallah amalakum telah terpatri sedemikian kuat dalam keyakinan kita. Bila jalan ini yang kita pilih, kita kan slalu produktif. Simpanan pahala kita akan selalu bertambah. Dan hidup kita akan selalu tenang, karena tabiat pahala tidak akan pernah mengantarkan kita kecuali kepada ketenangan hidup. Dari sisi ini nampak apa yang dikatakan Imam Ar Razi. Bahwa ayat ini merupakan taghriib (pendorong) bagi orang-orang yang taat kepada Allah untuk senantiasa beramal dan terus beramal .

Namun bila kita melakukan keburukan, Allah juga akan menyaksikannya fasayarallahu amalakum. Perlu digaris bawahi di sini bahwa keburukan dalam terminologi Islam tidak hanya identik dengan perzinaan, mabuk-mabukkan, pencurian, korupsi, dan lain sebaginya. Melainkan wudhu’ kita yang tidak sempurna, shalat yang asal-asalan itu juga kemaksiatan. Di hari kiamat kaki yang tidak dibasuh secara lengkap ketika berwudhu’ akan masuk neraka (HR Bukhari, no. 165). Shalat yang tidak sempurna bacaan dan gerakannya, tidak dianggap shalat. Rasulullah SAW.  pernah menyuruh sahabatnya untuk shalat lagi karena sebagian gerakannya tidak sempurna (HR. Bukhari, no. 757). Dalam berdakwahpun jika kita tidak melakukannya dengan penuh kesungguhan (baca: asal-asalan) itu juga kemaksiatan. Mengapa kita berbuat untuk Allah asal-asalan. Perhatikan, Allah senantiasa mengingatkan dalam Al Qur’an bahwa tidak ada di bumi dan langit dari ciptaanNya yang main-main. Semua Allah tegakkan dengan penuh kesempurnaan: Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu  cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah(QS. 67:3-4). Dari sini nampak bahwa ayat ini mengandung tarhiib (ancaman) bagi orang-orang yang tidak mentaati Allah sebagaimana mestinya.Az Zamakhsyari berkata: ayat ini merupakan ancaman sekaligus peringatan akan akibat yang harus mereka jalani jika terus menerus bergelimang dalam kemaksiatan (lihat Az Zamakhsyari, al kasysyaaf (Mansyratul balaghah) vol. 2, h.308).

Lalu mengapa Allah menambahkan setelahnya kalimat Warasulu wal mu’minun? Bukankah sudah cukup dengan kesaksian Allah? Imam Ar Razi mengutip jawaban Abu Muslim bahwa Rasulullah dan orang-orang mukmin adalah saksi yang Allah pilih. Wakadzalika jaalnakum ummatan wasathan (QS. 2:143).

Dalam ayat lain: fakaifa idzaa ji’na min kulli ummatin bisyahiidin wji’na bika alaa haaulaai syahiida (QS. 4:41) (lihat. Imam Ar Razi, mafatiihul ghaib: vol. 16, h.194). dalam riwayat Anas RA.  Diceritakan: Pernah suatu hari sebuah jenazah dibawa melewati sekelompok para sahabat Rasulullah SAW, mereka itu menyebutkan kebaikan si mayyit, Nabi menjawab: wajib. Setelah itu mayyit yang lain lagi dibawa, para sahabat yang melihatnya tidak memujinya, bahkan penilaiannya tidak baik, Nabi menjawab: wajib. Umar lalu bertanya: Apa maksud dari pernyataan wajib yang diucapkan Nabi? Nabi menjawab: Mayyit pertama yang kamu sebut kebaikannya wajib masuk surga, sementara mayyit kedua yang kamu sebut keburukannya wajib masuk neraka. Kamu semua adalah saksi Allah dibumi (HR. Bukhari, no, 181, Muslim, no. 949).

Amal Sebagai Inti Keimanan

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

             Kalimat wa quli’malu adalah perintah, yang berarti keharusan untuk beramal. Akidah tanpa amal akan menjadi kering, karena amal bagi akidah ibarat air bagi sebuah pohon. Pernyataan para ulama bahwa iman naik turun (yaziidu wayanqus) maksudnya ia naik dengan amal shaleh dan turun dengan kemaksiatan. Dalam diri seseorang cerminan akidahnya adalah amal yang ia lakukan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang selalu menggabung antara iman dan amal: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dala kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”  (QS. 103:2-3, lihat juga QS. 2:62, 5:69).

Dalam Surat Al Mu’minun, Allah menyebutkan tanda-tanda seorang yang beriman dengan amalnya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, menunaikan zakat, menjaga kemaluannya, kecual iterhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, serta memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang mewarisi”  (QS. 23:1-10).

Rasulullah SAW. Seringkali menyebutkan tanda-tanda keimanan dengan amal: Anas RA. Meriwayatkan Rasulullah bersabda: Seorang tidak disebut beriman  sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari, no.13). Imam Bukhari dalam buku Shahihnya menulis judul khusus: Bab man qaala innal iman huwal amal (orang yang mengatakan iman adalah amal), di dalamnya ia menyebutkan ayat: (QS. 43:72), dan hadits riwayat Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah SAW. Pernah ditanya, perbuatan apa yang paling utama: Beliau berkata: Iman kepada Allah dan RasulNya, kemudian apa? Haji mabrur (HR. Bukhari, no.26).

Ketika menjelaskan mengenai bagaimana seharusnya seorang muslim, Rasulullah tidak hanya menggambarkan hal-hal yang berkenaan dengan ibadah mahdlah (ritual), melainkan banyak hal yang berkaitan langsung dengan amal sosial: Ibn Amr meriwayatkan Rasulullah SAW. Bersabda: Seorang muslim adalah yang tidak pernah menyakiti orang muslim lainnya dengan lidah dan tangannya, dan seorang muhajir adalah yang hijrah dari larangan Allah SWT. (HR Bukhari,no. 10).Dalam sebuah peristiwa diceritakan bahwa seorang bertanya kepada Rasulullah SAW. mengenai apa yang terbaik dalam ber-Islam? Rasulullah menjawab: Kau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang lain, baik kamu kenal maupun tidak (HR Bukhari, no. 12).

Oleh. Dr. Amir Faishol Fath, MA