Oleh : KH. Dr. Amir Faishol Fath, MA

Salah satu tujuan syari’ah “Maqashidusy syari’ah”  adalah menjaga jiwa “hifzhun nafs”. Dengan kata lain membangun kemanusiaan. Maka, segala yang merusak jiwa dalam Islam diharamkan. Seperti, bunuh diri ataupun membunuh orang dengan cara yang dzalim itupun diharamkan karena dapat merusak jiwa. Allah SWT berfirman :

وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلِكَةِ

janganlah kamu jatuhkan ( diri sendiri ) kedalam kebinasaan “ ( Q.S. Al-Baqarah : 195 )

                Karenanya, dalam situasi yang akan menyebabkan hancurnya jiwa syari’ah hadir untuk memberikan solusi. Jika, ternyata tidak ada solusi kecuali dengan cara yang tidak dibolehkan ( haram ) maka itu, dikatagorikan sebagai darurat. Al-Qur’an telah meletakkan dasar-dasar berpikir,  supaya ummat ini tetap menyelamatkan jiwanya. Antara lain, sebagai berikut :

  1. Dalam Surah Al-Baqarah : 185 Allah berifirman :

يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”

2. Tentang dibolehkannya melakukan yang tidak boleh dalam kondisi darurat dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah : 173

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا اِثْمَ عَلَيْهِ

siapa terpaksa ( memakannya ) bukan karena menginginkannya dan tidak ( pula ) melampaui batas. Maka, tidak ada dosa baginya”

3. Dibolehkannya makan yang dilarang ( haram ) karena lapar, dan tidak ada pilihan lain dan bukan karena ingin melanggar simak dalam Surah Al-Maidah : 3

فَمَنِ اضْطُرَّفِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَا نِفٍ لِّاِثْمٍ فَاِنَّ اللهُ غَفُوْرُ رَّحِيْمٌ

siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa. Maka sungguh,  Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang “

4. Dalam Hadits Rasulullah saw, bersabda لا ضرر ولا ضرار  tidak boleh menyebabkan bahaya bagi orang lain, dan tidak boleh membahayakan dirinya sendiri ( H.R Ibn Majah : 2340, Sahih )

Dari dalil-dalil diatas, lahirlah berbagai kaidah fikih yang bisa dijadikan landasan. Bagaimana

menjaga jiwa ini, sebagai tujuan syari’ah. Antara lain, sebagai berikut :

  1. kaidah Fikih        :  الضرر يزال   “ semua yang membahayakan harus dihindari “
  2. kaidah Fikih        :  درء المفاسد مقدم على جلب المصالحmenghindari bahaya lebih diutamakan, dari pada mengambil manfaat “
  3. kaidah Fikih        : الأمر إذا ضاق اتسع  “ segala sesuatu jika sempit, maka menjadi luas “
  4. kaidah Fikih        : الحكم يتبع المصلحة الراجحة     “Hukum itu, mengikuti mashalahat yang lebih kuat “
  5. kaidah Fikih        : الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما  “ ada tidaknya hokum, tergantung illah ( sebab ) nya “

Berdasarkan semua itu, kita mengerti bagaimana Islam menjaga jiwa. Betapa mahalnya jiwa dalam ajaran Allah swt, bahwa kita bertanggung jawab untuk menjaga jiwa ini. Jika suatu saat kita berhadapan dengan situasi yang akan menyebabkan bahaya pada jiwa, seperti menyebarnya wabah corona yang sedang kita alami sekarang. Maka, kita sudah mempunyai pijakan sebagai berikut :

1. Antara mejalankan kewajiban, atau menjaga jiwa seperti sholat dalam kondisi perang. Maka itu tidak mungkin bisa, kita harus tetap sholat dengan cara yang telah dipandukan dalam sholat khauf.

2. Antara menjalankan Ibadah yang hukumnya wajib, tetapi bisa diganti dengan ibadah lainnya atau menjaga jiwa, seperti sholat jum’at dimasjid, atau sholat dzuhur dirumah. Maka, boleh memilih sholat dzuhur dirumah demi kemaslahatan jiwa

3. Antara menjalankan amalan, yang hukumnya Sunnah atau menjaga jiwa seperti sholat berjama’ah dimasjid. Maka, boleh sholat dirumah saja jika kehadiran dimasjid akan membahayakan jiwa.

                Justru, termasuk bertakwa kita menjaga jiwa. Sebab, ini perintah Allah swt janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam bahaya. Seperti pada ayat diatas, dan dicontohkan oleh Nabi Saw sebagai berikut :

عَنِ النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ : إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُوْنِ بِأَرْضِ فَلَا تَدْخُلُوْهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضِ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوْا مِنْهَا

jika kamu mendengar wabah Tha’un disebuah tempat, janganlah memasukinya. Sebaliknya, jika kamu berada disebuah tempat yang sudah terjangkit wabah Tha’un janganlah keluar dari tempat tersebut”      ( H.R Bukhari )

                Apakah ketika Nabi saw, mengajarkan ikhtiar seperti itu dianggap tidak beriman dengan takdir ? apakah ketika anda mencemplungkan diri dalam bahaya baik bagi diri anda maupun orang lain? Itu bukti bahwa anda lebih beriman dari pada Nabi saw.

                Atau, apakah ketika Umar r.a lemah imannya kepada takdir Allah dan ia berkata “ kita hindari tempat  yang ada Wabah Tha’un, pindah ketempat lain “

                Takwa artinya melakukan ikhtiar semaksimal kemampuan untuk menjaga jiwa. Yang haram saja boleh dilakukan, dalam kondisi darurat untuk menjaga jiwa. Apalagi yang ada pilihannya seperti sholat Jum’at atau sholat dzuhur atau yang hukumnya Sunnah sekalipun, seperti sholat berjama’ah dimasjid atau dirumah.

                Mungkin ada yang berkata “mengapa kita hebohkan masalah kemasjid ? sementara ke mall atau tempat maksiat tidak dihebohkan ?”

                Ingat, bahwa kondisi virus corona ini sedang serius. Dan sangat membahayakan jiwa, tujuan syari’ah adalah menjaga jiwa. Jika, kemasjid akan mengakibatkan rusaknya jiwa karena bercampurnya dengan orang banyak disana, maka lebih diutamakan jangan pergi kemasjid. Bukan maksud meremehkan masjid, tetapi karena situasi yang tidak memungkinkan dengan ketentuan hukum ini.

                Seharusnya, setiap orang faham bahwa kalau kemasjid saja sebaiknya dihindari apalagi ke mall yang tidak ada tujuan ibadah disana. Lebih tidak boleh lagi pergi ketempat-tempat yang berdosa, seharusnya begitu kita memahami hukum diatas. Wallahu’alam biishowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.