Oleh Ustadzah Dia Hidayati, MA.

                Setiap manusia pasti mendambakan keluarga sakinah, dilengkapi dengan adanya anak-anak yang sholeh dan sholehah, sejuk dipandang mata. Rasulullah saw. telah mengajarkan sebuah do’a:

“Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatinna qurrota ‘ayun waj’alna lil muttaqina imama” (ya Allah berikan kepada kami istri dan keturunan yang sedap dipandang mata dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa).

                Tetapi do’a saja tidak cukup melainkan harus didukung dengan upaya maksimal dalam mendidik dan mengarahkan prilaku anak sesuai dengan perkembangan usianya.

Anak adalah anugrah Allah yang sangat besar, amanah yang harus dijaga dan di didik agar kelak menjadi insan rabbani. Akhlak seseorang sering kali terbentuk karena pengaruh pendidikan sejak kecil. Oleh sebab itu setiap orang tua hendaknya berusaha untuk mendidik anak-anaknya dengan baik. Ada sebuah pepatah arab mengatakan:

                Bila sebuah keluarga senang menabuh  gendang Maka anak-anaknya akan menjadi penari

                Benar lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap kepribadian seorang anak. Dalam bukunya Psikologi Komunikasi (h.102), Jalaludin Rakhmat mengutip sebuah puisi yang sangat mengesankan, mengenai sejauh mana seorang anak belajar dari rumah atau lingkungan yang membesarkannya, petikannya sebagai berikut:

                jika anak dibesarkan dengan celaan

                Ia akan memaki

                Jika anak dibesarkan dengan permusuhan

                Ia akan belajar berkelahi

                Jika anak dibesarkan dengan penghinaan

                Ia akan belajar menyesali diri

                Jika anak dibesarkan dengan toleransi

                Ia akan belajar menahan diri

                Jika anak dibesarkan dengan dorongan

                Ia akan belajar percaya diri

                Jika anak dibesarkan dengan pujian

                Ia akan belajar menghargai

                Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan

                Ia akan belajar keadilan

                Jika anak dibesarkan dengan rasa aman

                Ia akan belajar menaruh kepercayaan

                Jika anak dibesarkan dengan dukungan

                Ia akan belajar menyenangi dirinya

                Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan

                Ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

                Masalahnya sekarang bagaimana menyikapi seorang anak yang bandel? Sikap bandel bagi seorang anak sebenarnya bukan masalah, bahkan bisa dikatakan sebagai fenomena yang wajar dan sehat. Bagi orang tua tidak perlu merasa terganggu dengannya. Seorang anak sering kali bersikap bandel, karena ia sedang dalam proses menunjukkan dirinya. Jadi sikap bandel bagi seorang anak boleh jadi merupakan media untuk mendemonstrasikan bahwa ia ada dan harus diperhatikan. Biasanya keinginan untuk memperhatikan jati diri ini sering kali muncul pada tahun-tahun pertama. Maka tidak bisa dipungkiri bahwa keaktifan seorang anak pada tahun-tahun pertama tersebut bisa dianggap hal yang sangat mengganggu bagi kedua orang tuanya, khususnya bagi seorang ibu sebagai orang yang paling dekat dengannya. Bila dipelajari secara jeli nampak bahwa sikap seorang anak terkesan bandel karena dua faktor:

  1. Perbedaan  keinginan dan daya nalar sudah barang tentu pengertian seorang anak kecil tidak akan pernah sama dengan pengertian orang tua. Sebab masing-masing mempunyai daya nalar dan kemampuan berpikir yang berbeda. Perbedaan inilah yang sering kali menimbulkan kesalahan presepsi.

                Bila orang tua cenderung melihat dunia anak dengan kaca mata dirinya, maka segala sikap anak akan selalu salah. Mengapa? Sebab anak bekerja sesuai dengan daya nalarnya. Sementara orang tua menilainya dengan kaca mata daya nalarnya sendiri. Dari cara pandang seperti ini sikap seorang anak sering kali terkesan bandel, padahal bila dilihat dengan kaca mata dunia anak-anak sikap tersebut merupakan fenomena yang normal dan wajar.

                Jadi sebenarnya orang tua tidak perlu jengkel dengan sikap anaknya yang nampak menentang atau tidak melaksanakan apa yang diperintahkan. Sebab pada saat itu sang anak bukan sedang menentang, melainkan ia sedang menunjukkan bahwa dirinya ada. Dari perbedaan definisi ini, cenderung muncul perbedaan penilaian. Akhirnya orang tua yang melihat dengan kaca mata dirinya berkesimpulan bahwa anaknya bandel. Sementara anaknya tidak merasa demikian, malah ia merasa telah tampil sebagai anak yang kreatif, innovatif, penuh dengan langkah-langkah baru.

                Dalam kondisi ini kita menemukan dua tipe orang tua: Pertama, orang yang cenderung selalu merasa terganggu dengan sikap anaknya tersebut. Akibatnya ia selalu marah, bahkan tidak jarang ia menggunakan kekerasan. Sikap yang demikian bila terus berlangsung, akan banyak menimbulkan dampak negatif pada diri seorang anak, diantaranya:  (a) Ia akan belajar memaki, karena setiap saat otaknya merekam kata-kata berisi makian dari orang tuanya (b) atau ia minder karena merasa perbuatannya tidak pernah benar (c) atau ia akan semakin frontal, karena omelan yang terus menerus dilakukan orang tuanya lama kelamaan menjadi hal yang biasa di dengar. Maka ia menjadi kebal dan tidak merasa perlu lagi mendengarkan omelan tersebut (d) atau ia akan menjadi pribadi yang selalu pasrah dan tunduk, tidak punya kepribadian dan tidak bisa menentukan sikap untuk dirinya sendiri.

                Kedua, orang tua yang cenderung bersikap akomodatif, dengan cara menghormati sikap anaknya sepanjang tidak membahayakan dirinya. Untuk lebih jelasnya sikap orang semacam ini bisa diilustrasikan dalam beberapa contoh berikut: (a) Bila suatu saat misalnya ia melihat anaknya memaksakan diri untuk makan dengan tangan kirinya, orang tua tersebut tidak lantas menyambarnya dengan kemarahan. Melainkan ia memberi pengertian dengan bahasa yang bisa dipahami, sampai anak tersebut merasa bersalah atas tindakannya itu. Tentu dalam hal ini kadang membutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi karena kesabarannya dalam setiap kegagalan, lama kelamaan ia akan berhasil juga. Adalah tabiat anak untuk selalu berbuat sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri. nasihat dan arahan orang tua, sering kali tidak bisa ia pahami.

                Karena itu, tidak ada pilihan bagi orang tua melainkan harus senantiasa sabar bersikap sebagaimana yang diinginkan anaknya dengan tanpa mengorbankan nilai-nilai pendidikan yang harus dicapai. terutama seorang ibu, ia harus selalu berusaha memberikan pemahaman secara baik dan memberikan kesempatan pada sang anak untuk merealisasikan keinginannya meskipun pada pekerjaan yang sangat sederhana, kemudian mengarahkannya dengan tenang dan lembut agar anak mau mencoba pendapat yang diinginkan sang ibu.

                (b) Bila sang anak ternyata memaksa untuk bermain api misalnya, orang tua tersebut tidak lantas bertiak lalu melemparkan nyala api itu jauh-jauh. Karena ia tahu bahwa sikap yang demikian akan terus membekas di benak sangan anak dan membuatnya penasaran. Dalam hal ini ia mengambil langkah: Kalau masih juga belum percaya dan terus memaksa sambil memaksa sambil mengawasi –ia biarkan saja sang anak bermain api, sampai kemudian panas api tersebut menyentuh jarinya, di mana seketika ia tahu bahwa pekerjaan itu sangat buruk dan membahayakan. Sejak itu pula telah ia belajar hati-hati setiap kali melihat api.

                (c) Bila ternyata suatu saat sang anak akan melakukan tindakan yang membahayakan, seperti akan mencoba melompat dari gedung lantai 10 misalnya, untuk meniru superman terbang, di sini orang tua harus segera bertindak menyelamatkannya, bukan membiarkan anak sampai jatuh, supaya mendapat pelajaran. Sebab membiarkan anak dalam suatu sikap yang sangat membahayakan bukan sikap mendidik. Mengapa? Karena seorang anak pada waktu itu belum mampu memahami bahwa tindakan melompat dari lantai yang sangat tinggi tersebut adalah tindakan mematikan. Dengan demikian hanya orang tualah yang mengerti dan bisa melakukan tindak penyelamatan.

                Dari sini nampak bahwa tipe orang tua yang terakhir lebih mendidik dan lebih bijak. Sebab pada hakikatnya sikap bandel sang anak hanyalah semata perbedaan keinginan. Artinya sang anak dengan daya nalarnya menginginkan sesuatu, sedangkan sang ibu menginginkan sesuatu yang lain. Kalau hal ini benar-benar dipahami, sang ibu tidak akan jengkel lagi setiap kali melihat anaknya bersikap bandel dan menentang.

  • Sikap tidak tenang dan selalu gelisah anak yang bandel cenderung keras kepala, dinamai keras kepala karena anak tersebut selalu mengulangi kesalahan meskipun ia tahu bahwa pekerjaan itu salah. Problem ini terletak pada ketidakmampuan jiwanya dalam menghakimi dirinya bahwa ia bersalah atau tidak. Artinya perbuatan salah yang dilakukan sang anak dengan sengaja dan terus menerus dikarenakan oleh kondisi psikologis yang dilaluinya, dan boleh jadi itu bisa dianggap sebagai cara sang anak untuk memperlihatkan keberadaan dirinya pada orang sekitarnya.

                Ada dua bentuk keras kepala dalam diri sang anak: (a) keras kepala dalam prilaku dan gerakan. (b) Keras kepala dalam ucapan. Kemampuan yang telah Allah berikan kepada sang anak selalu menggerakkan jiwanya untuk berbuat sesuatu. Akibatnya ia tidak pernah tenang, bahkan selalu berusaha untuk senantiasa aktif dan bergerak. Baginya cara ini adalah media berekspresi. Fenomena ini biasanya nampak pada tahun-tahun pertama, ditandai dengan sikap selalu ingin makan apa saja yang ada didepannya, entah barang itu membahayakan atau tidak. Inilah dari sisi gerakan, adapun dari sisi ucapan, biasanya diungkapkan dalam bentuk jeritan, atau kata-kata berupa omelan yang kadang tidak bisa dipahami. Itu dilakukan untuk menarik perhatian orang lain terutama sang Ibu agar segera melihatnya atau nermain dengannya.

                Dari sini dapatkita simpulkan beberapa hal: (a) Pada hakikatnya sikap bandel seorang anak adalah fenomena yang alami sangat penting dan berguna pada masa-masa tertentu, kita tidak boleh menyikapinya dengan keras, biarkan ia mengekspresikan keinginannya selama dalam batas yang logis dan tidak membahayakan dirinya.

(b) Seorang ibu yang bijak –setiap kali melihat sikap bandel pada diri anak- tidak akan segera mengambil tindakan kasar, melainkan akan selalu mempelajari sebab-sebab yang melatarbelakangi perbuatannya itu. Lalu dari sebab itu ia berusaha mencari solusi yang efektif dan mendidik. (c) Orang tua hendaknya selalu mengarahkan dan mendorong anaknya pada hal yang baik dan positif. Karena cara ini lebih efektif daripada sekedar memberikan ancaman atas perbuatan yang salah. (d) Seorang anak biasanya tidak suka dilarang maka sebisa mungkin dihindari kalimat “jangan” tapi alihkanlah ia pada pekerjaan positif tanpa ia merasakannya. Sering melarang berarti kita telah menghilangkan rasa percaya diri dalam jiwa sang anak dan dapat kepribadiannya selalu ragu untuk bertindak. (e) Orang tua seharusnya berusaha menanamkan rasa percaya diri dalam pribadi sang anak, banyak cara yang bisa ditempuh misalnya sering memberikan penghargaan pada perbuatan baik yang dilakukan meskipun perbuatan itu sangat sederhana. Sering mendorong sang anak jika ia mendapat kegagalan dalam melakukan sesuatu yang baik. (f) Seorang anak mudah mencontoh prilaku dan ucapan dari orang di sekitarnya, maka semaksimal mungkin orang tua harus bisa jadi contoh (qudwah) yang baik baginya. Jangan sering mengucapkan kalimat yang tidak baik, karena ia akan mengikutinya. Jangan pula melakukan perbuatan yang pernah kita melarangnya, karena ia akan menjadi tidak percaya pada setiap larangan yang kita ucapkan.                 Kesimpulan diatas telah menggambarkan bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga dan dididik, anak juga ujian yang diberikan Allah senantiasa membantu para orang tua dalam mendidik anak, karena orang tua adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, semoga Allah menjadikan semua anak kita sholeh dan sholehah “ Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatuna qurrata ‘ayun waj ‘alna lil muttaqina imama”. Wallahu alam bishshawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.