Oleh Ustadzah Dia Hidayati, MA.

Sepandai-pandai tupai melompat, suatu saat ia akan jatuh ke tanah. Sepandai-pandai suami-istri menhindari konflik suatu saat akan terkena juga. Konflik adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah kebersamaan, kalau tidak mau dikatakan bagain dari sunnatullah. Allah SWT. membekali masing-masing manusia dengan keinginan, presepsi, kemampuan berpikir yang beragam. Keberagaman tidak akan pernah lepas dari perbedaan. Dari perbedaan inilah konflik selalu muncul. Tak terkecuali dalam rumah tangga.

                Tetapi konflik seharusnya jangan dilihat sebagai masalah. Ibarat sambel yang selalu mengundang semangat makan, konflik sering memperbaharui cinta, dan membuat dinamika rumah tangga indah. Hampir dipastikan bahwa setiap orang tidak mau konflik. Tapi bagaimanapun konflik akan selalu tiba-tiba datang di luar perkiraan. Bila ternyata demikian, persoalannya sekarang adalah bagaimana cara mengatasi konflik rumah tangga? Apa yang harus segera dilakukan seorang suami bila titik api itu muncul tiba-tiba dari pihak istri? Atau sebaliknya?

                Imam As Samarqandi dalam bukunya “tanbihul ghafilin” meriwayatkan sebuah kisah, bahwa seorang laki-laki pernah datang kepada Umar bin Khattab, ingin menceritakan prilaku istrinya yang selalu cemberut dan nampak tidak bersahabat. Ketika tiba di depan pintu rumah Umar, sahabat itu mendengar istri Umar Ummu Kultsum sedang ngomel. Seketika laki-laki itu berbalik. Dari balik jendela Umar segera memanggilnya. Laki-laki itu lalu menceritakan keinginannya. Setelah mendengar permasalahannya, umar berkata: Aku dengarkan baik-baik omelan istriku, dan tidak sedikitpun aku melawannya, karena beberapa alasan: Pertama, Ia adalah penghalang antara aku dan api neraka, hatiku selalu berteduh kepadanya sehingga aku terjaga dari perbuatan haram. Kedua, ia menjaga hartaku ketika aku pergi. Ketiga, ia selalu mencuci pakaianku. Keempat, ia membesarkan dan mendidik anak-anakku. Kelima, ia selalu membuat masakan untukku. (As Samarqandi, Tanbihul ghafilin, (Bairut, Darul Kitab al Araby) 2002, h.280).

                Bila konflik menimpa keluarga seorang sahabat Rasulullah saw, seperti dalam riwayat di atas, itu menunjukkan bahwa tidak mustahil ia akan lebih banyak kemungkinan menimpa keluarga lain. Tapi yang sangat menarik untuk kita jadikan pelajaran dari kisah di atas adalah bagaimana Umar mengatasinya. Dalam banyak riwayat Umar terkenal seorang sahabat yang sangat keras. Bila melihat sebagian sahabat melakukan kesalahan, umar sealalu bilang “da’ni laaqta’anna ‘unuqahu” (biarkan aku memotong lehernya). Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. pernah menggambarkan, bahwa bila umar datang, syetan lari tunggang langgang ketakutan. Badan Umar terkenal tinggi dan gagah. Bila menunggangi kuda, kaki Umar menyentuh tanah. Bila semua sahabat Rasulullah SAW berkumpul, yang nampak menonjol Umar dan Khalid bin Walid. Tapi itu semua tidak membuat Umar mudah bertindak keras kepada istrinya. Bahkan di saat-saat istrinya ngomel Umar malah diam, tidak melemparkan balasan sepatah katapun. Ini menunjukkan kepribadian Umar yang demikian matang dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Sehingga ia tidak mudah terpancing emosi, bahkan ia mampu mengendalikannya sebaik mungkin.

                Setidaknya kisah di atas telah menggambarkan beberapa langkah strategis yang bisa kita ambil untuk diamalkan dalam mengatasi konflik rumah tangga: Pertama, Sikap seorang laki-laki yang tidak segera mengambil tindakan frontal dan emosional dalam menyikapi istrinya yang sedang marah. Ia malah segera minta pendapat Umar  yang pada waktu itu sedang menjabat sebagai khalifah. Ini salah satu cara yang bijak. Artinya bila sebuah rumah tangga sedang mengalami konflik, hendaknya suami atau istri segera mencari solusi untuk mneyelesaikannya. Jika bisa di atasi sendiri itu lebih baik. Jika tidak ia hendaknya segera mendatangi Ustadz (seorang yang alim) atau pemimpinnya untuk bermusyawarah atau konsultasi. Dalam langkah ini hendaknya ia benar-benar ikhlash mencari jalan keluar bukan untuk mencari kambing hitam.

                Kedua, Sikap Umar  yang segera menyadari bahwa suatu hal yang wajar jika istri kadang ngomel kepada suami. Karena kalau bukan kepada suami kepada siapa lagi ia akan ngomel. Ketika itu Umar mengambil tindakan yang sangat bijak. Ia membuka hati seluas-luasnya sehingga omelan itu menjadi kecil. Umar melihat bahwa bertindak keras yang mengucilkan istri –sekalipun itu baginya sangat mudah ia lakukan- bukan solusi terbaik. Karenanya ia memilih diam dan menyimak dangan santun segala apa yang diomelkan istrinya.

                Ketiga, Umar melihat seorang istri adalah partner menuju Allah yang senantiasa mengingatkannya kepada ketaatan dan menjaganya dari api neraka. Dari sini nampak bahwa istri bagi Umar bukan sekedar untuk pemuas nafsu sesaat. Suatu cara pandang sangat mulia, sehingga setiap terjadi konflik, ia berusaha segera mengatasinya, karena ia melihat bahwa perjalanan menuju Allah masih panjang dan harus digalang bersama-sama secara harmonis.

                Keempat, Umar segera ingat akan keterbatasan dirinya dan jasa istrinya dalam menopang banyak hal yang tidak bisa ia lakukan sendiri, terutama dalam mendidik anak-anak. Tidak seorangpun yang dapat memungkiri fungsi seorang ibu bagi anaknya, sejak dalam kandungan hingga dilahirkan, ia selalu standby 24jam. Istri tidak saja menjadi seorang ibu yang merawat dan menjaga anaknya tetapi juga berfungsi sebagai pendidik pertama sebelum anaknya masuk kejenjang pendidikan formal, dengan demikian dapat dipastikan betapa capeknya seorang istri. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sehebat-hebatnya seorang suami ia tidak akan bisa tegak sendirian (baca: tidak bisa melakukan segala hal sendiri) tanpa ditopang oleh seorang istri. Dengan mengingat kekurangan diri masing-masing yang hanya bisa disempurnakan secara bersama-sama (suami-istri), konflik apapun dalam rumah tangga akan segera di atasi tanpa berlarut-larut.

                Kelima, Umar menyadari, bahwa memadamkan api tidak bisa dengan api, melainkan dengan air. Demikian juga memadamkan kemarahan tidak bisa dengan kemarahan. Dari sini Umar telah menjadi air bagi api yang datang membara. demikian juga, bila ternyata titik kemarahan itu muncul dari suami, seorang istri harus segera menjadi air dan memadamkannya. Sehingga dengan demikian konflik akan segera padam tanpa menuntut pikiran dan perasaan yang berlama-lama.  Berbahagialah rumah tangga yang bisa menegakkan fungsi secara seimbang antara air dan api.

                Keenam, Umar menyadari bahwa kemarahan adalah hal yang manusiawi. Justru tidak manusiawi kalau seorang istri tidak pernah marah. Pada batas-batas yang manusiawi Umar tidak menuntut hal yang diluar kemampuannya. Karenanya Umar tidak melawannya dengan kemarahan. Tetapi dalam hal yang manusiawi dan itu harus ditegakkan secara utuh, Umar sangat tegas, lebih tegas lagi kepada keluarganya. Perhatikan ketika Umar menjabat sebagai khalifah, Umar mengatakan kepada keluarganya, bahwa “siapa yang melanggar hukum di antara kalian, balasannya akan dilipat gandakan”.

                Ketujuh, Umar menyadari bahwa konflik pasti terjadi, karenanya tidak perlu dibesar-besarkan, di luar itu banyak tugas yang lebih besar. Dari sini nampak bahwa Umar selalu berpikir besar, dengan tanpa meremehkan sama sekali masalah kecil. Artinya ia menyikapi setiap permasalahan sesuai dengan porsinya, bila masalah itu tidak perlu dibesar-besarkan, Umar melihat dengan kaca mata yang bijak, sehingga sang istri merasa telah terlayani persoalannya dan Umar juga segera pindah pada pekerjaan yang lebih penting, tanpa meletakkan persoalan tersebut sebagai beban pikiran dan perasaan. Ia menganggapnya selesai dan istrinya merasa puas. Apapun, keluarga yang damai dan tentram serta penuh kasih sayang adalah dambaan setiap manusia yang normal. Sementara itu konflik atau badai besar atau kecil pasti akan hadir dalam kehidupan berumah tangga, maka kemampuan kita dalam mengendalikan badai tersebut akan menentukan harapan yang kita cita-citakan, mampukah kita mengendalikannya atau ia akan menghancurkan kehidupan rumah tangga kita? Belajarlah dari siapa saja, dalam mengatasi konflik, seperti kali ini kita belajar dari Umar. Sebab alhikmatu dhallatul mu’min (hikmah adalah milik orang mukmin yang hilang).

Leave a Reply

Your email address will not be published.