oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Allah swt. berfirman :

 يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصا دقين

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bergabungkan dengan orang-orang yang jujur. (QS. At Taubah 119)

Ayat ini menjelaskan agar orang beriman dan bertakwa. Tetapi yang menarik adalah perintah Allah swt. berikutnya : ” wa kuunuu ma’ashsshaadiqiin “. (bergabunglah dengan orang-orang yang jujur).  Bahwa untuk membangun kualitas takwa ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi :

  1. Iman yang jujur. Karena itu yang Allah panggil adalah orang-orang beriman. Sebab,  tidak cukup seorang hanya mengaku beriman. Melainkan,  harus membuktikan imannya secara nyata, dalam bentuk perbuatan. Berupa ketaatan kepada Allah swt. menjauhi laranganNya dan bersungguh-sungguh mengajak orang lain agar ikut beriman. Seorang mukmin harus punya sikap tersebut karena telah tercelup dalam warna iman.

صبغة الله ج ومن احسن من الله صبغة  صلى  ونحن له عبدون

                “ sibghah Allah “ Siapa yang lebih baik dari Sibghah­-nya daripada Allah ? dan KepadaNya kami menyembah  . ( QS. Al Baqarah : 138)

                Seorang mukmin tidak boleh menjadi seperti orang plin-plan. Tidak jelas. Ikut-ikutan orang kafir. Warna yang paling kontras dari tampilan seorang mukmin adalah takwa. Sekalipun secara nyata orang-orang beriman itu membaur dalam pergaulan dunia. Tetapi,  ia berbeda karena prinsip-prinsipnya yang jelas. Apa yang Allah halalkan, ia lakukan dan apa yang Allah haramkan ia jauhi. Sebab, agama Islam yang mereka anut bukan karangan mereka sendiri. Satu huruf pun mereka tidak boleh campur tangan dengan mengubah teks Al-Qur’an dan Al Hadits sebagai buku panduannya.

                2. Bertakwa, yang artinya berhati-hati dari dosa. Seorang mukmin pasti takut berbuat dosa. Ia yakin bahwa sekecil apapun dosa pasti nampak bagi Allah swt. :

                فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره 

                “ Siapa berbuat baik sekecil zarrah pun, Allah pasti melihatnya, dan siapa berbuat buruk sekecil zarah pun Allah pasti melihatnya.” (QS. Az Zalzalah 7-8)

                Dalam ayat lain :

                يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور

                “ Allah mengetahui   kemana mata ini berkhianat  dan Allah  juga tahu   apa yang tersembunyi  dalam dada”  (QS. Ghafir 19)

                Artinya tidak mungkin seseorang bersembunyi dari Allah swt. Kelak di hari Kiamat Allah langsung yang akan menghisab kita. Allah berfirman :

                يوم يقوم الناس لرب العالمين

                “ Pada hari itu orang-orang berdiri di hadapan Allah Pemilik alam semseta ” (QS. Almuthafifin : 6

                Berdiri disini makasudnya,  mempertanggungjawabkan segala amal yang telah diperbuat selama di dunia.

                Takwa artinya menyadari makna ini dengan sedalam-dalamnya. Bahwa, tidak mungkin kita berpura-pura dengan Allah swt. Silahkan di dunia seseorang mengemas dosa , dan kezalimannya dengan berbagai cara pencitraan. Boleh jadi, banyak orang tidak tahu hakikatnya tetapi Allah swt. pasti mengetahui semua itu. Maka, orang beriman yang bertakwa tidak mungkin berbuat zalim, melakukan dosa-dosa besar seperti membunuh, berzina, berbohong, menipu dan sebagainya. Inilah hakikat takwa yang sebenarnya.

                3. Bergabung dengan orang-orang yang jujur. Dalam kata bergabung,  ada makna persaudaraan dan keberpihakan. Tidak mungkin seorang mukmin berbuat zalim pada sesama. Kepada orang lain yang beda iman saja tidak boleh apalagi kepada sesama beriman. Seorang mukmin adalah contoh peribadi yang menegakkan kedamaian. Dalam sejarah Islam, ketika umat ini memimpin seperempat dunia, tidak ada cerita bahwa satu tempat ibadah non muslim dihancurkan. Tidak ada rekaman bahwa satu non muslim diperlakukan secara tidak adil. Semua merasakan indahnya perdamaian dan kedamaian yang dicontohkan orang beriman.

Bahkan, mereka bersaksi bahwa kedamaian di bawah kepemimpinan orang-orang beriman telah membuat mereka terjamin. Sekarang, kita menyaksikan kenyataan terbalik. Mereka berupaya mencontoh peradaban Islam di negar-negara mereka, sekalipun mereka tidak mengambil konsep imannya, sementara orang-orang beriman  malah memperakterakan kedzoliman dan keindikatoran. Padahal seharusnya, mereka tinggal mencontohkan pendahulunya yang telah berhasil mengamalkan islam secara utuh.

                Dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Inilah makna ayat :

إنما المؤمنون إخوة فاصلحوا بين أخويكم واتقو الله لعلكم ترحمون

sesungguhnya orang-orang yang beriman pasti bersaudara, maka hendaklah meraka melakukan perbaikan diantara sesama saudara kalian. Dan bertakwaklah agar kalian mendapatkan Rahmat “ ( Q.s Al-Hujrat : 10 )

Leave a Reply

Your email address will not be published.