Anak Yang Bandel, Bagaimana Mendidiknya

Oleh Ustadzah Dia Hidayati, MA.

                Setiap manusia pasti mendambakan keluarga sakinah, dilengkapi dengan adanya anak-anak yang sholeh dan sholehah, sejuk dipandang mata. Rasulullah saw. telah mengajarkan sebuah do’a:

“Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatinna qurrota ‘ayun waj’alna lil muttaqina imama” (ya Allah berikan kepada kami istri dan keturunan yang sedap dipandang mata dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa).

                Tetapi do’a saja tidak cukup melainkan harus didukung dengan upaya maksimal dalam mendidik dan mengarahkan prilaku anak sesuai dengan perkembangan usianya.

Anak adalah anugrah Allah yang sangat besar, amanah yang harus dijaga dan di didik agar kelak menjadi insan rabbani. Akhlak seseorang sering kali terbentuk karena pengaruh pendidikan sejak kecil. Oleh sebab itu setiap orang tua hendaknya berusaha untuk mendidik anak-anaknya dengan baik. Ada sebuah pepatah arab mengatakan:

                Bila sebuah keluarga senang menabuh  gendang Maka anak-anaknya akan menjadi penari

                Benar lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap kepribadian seorang anak. Dalam bukunya Psikologi Komunikasi (h.102), Jalaludin Rakhmat mengutip sebuah puisi yang sangat mengesankan, mengenai sejauh mana seorang anak belajar dari rumah atau lingkungan yang membesarkannya, petikannya sebagai berikut:

                jika anak dibesarkan dengan celaan

                Ia akan memaki

                Jika anak dibesarkan dengan permusuhan

                Ia akan belajar berkelahi

                Jika anak dibesarkan dengan penghinaan

                Ia akan belajar menyesali diri

                Jika anak dibesarkan dengan toleransi

                Ia akan belajar menahan diri

                Jika anak dibesarkan dengan dorongan

                Ia akan belajar percaya diri

                Jika anak dibesarkan dengan pujian

                Ia akan belajar menghargai

                Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan

                Ia akan belajar keadilan

                Jika anak dibesarkan dengan rasa aman

                Ia akan belajar menaruh kepercayaan

                Jika anak dibesarkan dengan dukungan

                Ia akan belajar menyenangi dirinya

                Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan

                Ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

                Masalahnya sekarang bagaimana menyikapi seorang anak yang bandel? Sikap bandel bagi seorang anak sebenarnya bukan masalah, bahkan bisa dikatakan sebagai fenomena yang wajar dan sehat. Bagi orang tua tidak perlu merasa terganggu dengannya. Seorang anak sering kali bersikap bandel, karena ia sedang dalam proses menunjukkan dirinya. Jadi sikap bandel bagi seorang anak boleh jadi merupakan media untuk mendemonstrasikan bahwa ia ada dan harus diperhatikan. Biasanya keinginan untuk memperhatikan jati diri ini sering kali muncul pada tahun-tahun pertama. Maka tidak bisa dipungkiri bahwa keaktifan seorang anak pada tahun-tahun pertama tersebut bisa dianggap hal yang sangat mengganggu bagi kedua orang tuanya, khususnya bagi seorang ibu sebagai orang yang paling dekat dengannya. Bila dipelajari secara jeli nampak bahwa sikap seorang anak terkesan bandel karena dua faktor:

  1. Perbedaan  keinginan dan daya nalar sudah barang tentu pengertian seorang anak kecil tidak akan pernah sama dengan pengertian orang tua. Sebab masing-masing mempunyai daya nalar dan kemampuan berpikir yang berbeda. Perbedaan inilah yang sering kali menimbulkan kesalahan presepsi.

                Bila orang tua cenderung melihat dunia anak dengan kaca mata dirinya, maka segala sikap anak akan selalu salah. Mengapa? Sebab anak bekerja sesuai dengan daya nalarnya. Sementara orang tua menilainya dengan kaca mata daya nalarnya sendiri. Dari cara pandang seperti ini sikap seorang anak sering kali terkesan bandel, padahal bila dilihat dengan kaca mata dunia anak-anak sikap tersebut merupakan fenomena yang normal dan wajar.

                Jadi sebenarnya orang tua tidak perlu jengkel dengan sikap anaknya yang nampak menentang atau tidak melaksanakan apa yang diperintahkan. Sebab pada saat itu sang anak bukan sedang menentang, melainkan ia sedang menunjukkan bahwa dirinya ada. Dari perbedaan definisi ini, cenderung muncul perbedaan penilaian. Akhirnya orang tua yang melihat dengan kaca mata dirinya berkesimpulan bahwa anaknya bandel. Sementara anaknya tidak merasa demikian, malah ia merasa telah tampil sebagai anak yang kreatif, innovatif, penuh dengan langkah-langkah baru.

                Dalam kondisi ini kita menemukan dua tipe orang tua: Pertama, orang yang cenderung selalu merasa terganggu dengan sikap anaknya tersebut. Akibatnya ia selalu marah, bahkan tidak jarang ia menggunakan kekerasan. Sikap yang demikian bila terus berlangsung, akan banyak menimbulkan dampak negatif pada diri seorang anak, diantaranya:  (a) Ia akan belajar memaki, karena setiap saat otaknya merekam kata-kata berisi makian dari orang tuanya (b) atau ia minder karena merasa perbuatannya tidak pernah benar (c) atau ia akan semakin frontal, karena omelan yang terus menerus dilakukan orang tuanya lama kelamaan menjadi hal yang biasa di dengar. Maka ia menjadi kebal dan tidak merasa perlu lagi mendengarkan omelan tersebut (d) atau ia akan menjadi pribadi yang selalu pasrah dan tunduk, tidak punya kepribadian dan tidak bisa menentukan sikap untuk dirinya sendiri.

                Kedua, orang tua yang cenderung bersikap akomodatif, dengan cara menghormati sikap anaknya sepanjang tidak membahayakan dirinya. Untuk lebih jelasnya sikap orang semacam ini bisa diilustrasikan dalam beberapa contoh berikut: (a) Bila suatu saat misalnya ia melihat anaknya memaksakan diri untuk makan dengan tangan kirinya, orang tua tersebut tidak lantas menyambarnya dengan kemarahan. Melainkan ia memberi pengertian dengan bahasa yang bisa dipahami, sampai anak tersebut merasa bersalah atas tindakannya itu. Tentu dalam hal ini kadang membutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi karena kesabarannya dalam setiap kegagalan, lama kelamaan ia akan berhasil juga. Adalah tabiat anak untuk selalu berbuat sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri. nasihat dan arahan orang tua, sering kali tidak bisa ia pahami.

                Karena itu, tidak ada pilihan bagi orang tua melainkan harus senantiasa sabar bersikap sebagaimana yang diinginkan anaknya dengan tanpa mengorbankan nilai-nilai pendidikan yang harus dicapai. terutama seorang ibu, ia harus selalu berusaha memberikan pemahaman secara baik dan memberikan kesempatan pada sang anak untuk merealisasikan keinginannya meskipun pada pekerjaan yang sangat sederhana, kemudian mengarahkannya dengan tenang dan lembut agar anak mau mencoba pendapat yang diinginkan sang ibu.

                (b) Bila sang anak ternyata memaksa untuk bermain api misalnya, orang tua tersebut tidak lantas bertiak lalu melemparkan nyala api itu jauh-jauh. Karena ia tahu bahwa sikap yang demikian akan terus membekas di benak sangan anak dan membuatnya penasaran. Dalam hal ini ia mengambil langkah: Kalau masih juga belum percaya dan terus memaksa sambil memaksa sambil mengawasi –ia biarkan saja sang anak bermain api, sampai kemudian panas api tersebut menyentuh jarinya, di mana seketika ia tahu bahwa pekerjaan itu sangat buruk dan membahayakan. Sejak itu pula telah ia belajar hati-hati setiap kali melihat api.

                (c) Bila ternyata suatu saat sang anak akan melakukan tindakan yang membahayakan, seperti akan mencoba melompat dari gedung lantai 10 misalnya, untuk meniru superman terbang, di sini orang tua harus segera bertindak menyelamatkannya, bukan membiarkan anak sampai jatuh, supaya mendapat pelajaran. Sebab membiarkan anak dalam suatu sikap yang sangat membahayakan bukan sikap mendidik. Mengapa? Karena seorang anak pada waktu itu belum mampu memahami bahwa tindakan melompat dari lantai yang sangat tinggi tersebut adalah tindakan mematikan. Dengan demikian hanya orang tualah yang mengerti dan bisa melakukan tindak penyelamatan.

                Dari sini nampak bahwa tipe orang tua yang terakhir lebih mendidik dan lebih bijak. Sebab pada hakikatnya sikap bandel sang anak hanyalah semata perbedaan keinginan. Artinya sang anak dengan daya nalarnya menginginkan sesuatu, sedangkan sang ibu menginginkan sesuatu yang lain. Kalau hal ini benar-benar dipahami, sang ibu tidak akan jengkel lagi setiap kali melihat anaknya bersikap bandel dan menentang.

  • Sikap tidak tenang dan selalu gelisah anak yang bandel cenderung keras kepala, dinamai keras kepala karena anak tersebut selalu mengulangi kesalahan meskipun ia tahu bahwa pekerjaan itu salah. Problem ini terletak pada ketidakmampuan jiwanya dalam menghakimi dirinya bahwa ia bersalah atau tidak. Artinya perbuatan salah yang dilakukan sang anak dengan sengaja dan terus menerus dikarenakan oleh kondisi psikologis yang dilaluinya, dan boleh jadi itu bisa dianggap sebagai cara sang anak untuk memperlihatkan keberadaan dirinya pada orang sekitarnya.

                Ada dua bentuk keras kepala dalam diri sang anak: (a) keras kepala dalam prilaku dan gerakan. (b) Keras kepala dalam ucapan. Kemampuan yang telah Allah berikan kepada sang anak selalu menggerakkan jiwanya untuk berbuat sesuatu. Akibatnya ia tidak pernah tenang, bahkan selalu berusaha untuk senantiasa aktif dan bergerak. Baginya cara ini adalah media berekspresi. Fenomena ini biasanya nampak pada tahun-tahun pertama, ditandai dengan sikap selalu ingin makan apa saja yang ada didepannya, entah barang itu membahayakan atau tidak. Inilah dari sisi gerakan, adapun dari sisi ucapan, biasanya diungkapkan dalam bentuk jeritan, atau kata-kata berupa omelan yang kadang tidak bisa dipahami. Itu dilakukan untuk menarik perhatian orang lain terutama sang Ibu agar segera melihatnya atau nermain dengannya.

                Dari sini dapatkita simpulkan beberapa hal: (a) Pada hakikatnya sikap bandel seorang anak adalah fenomena yang alami sangat penting dan berguna pada masa-masa tertentu, kita tidak boleh menyikapinya dengan keras, biarkan ia mengekspresikan keinginannya selama dalam batas yang logis dan tidak membahayakan dirinya.

(b) Seorang ibu yang bijak –setiap kali melihat sikap bandel pada diri anak- tidak akan segera mengambil tindakan kasar, melainkan akan selalu mempelajari sebab-sebab yang melatarbelakangi perbuatannya itu. Lalu dari sebab itu ia berusaha mencari solusi yang efektif dan mendidik. (c) Orang tua hendaknya selalu mengarahkan dan mendorong anaknya pada hal yang baik dan positif. Karena cara ini lebih efektif daripada sekedar memberikan ancaman atas perbuatan yang salah. (d) Seorang anak biasanya tidak suka dilarang maka sebisa mungkin dihindari kalimat “jangan” tapi alihkanlah ia pada pekerjaan positif tanpa ia merasakannya. Sering melarang berarti kita telah menghilangkan rasa percaya diri dalam jiwa sang anak dan dapat kepribadiannya selalu ragu untuk bertindak. (e) Orang tua seharusnya berusaha menanamkan rasa percaya diri dalam pribadi sang anak, banyak cara yang bisa ditempuh misalnya sering memberikan penghargaan pada perbuatan baik yang dilakukan meskipun perbuatan itu sangat sederhana. Sering mendorong sang anak jika ia mendapat kegagalan dalam melakukan sesuatu yang baik. (f) Seorang anak mudah mencontoh prilaku dan ucapan dari orang di sekitarnya, maka semaksimal mungkin orang tua harus bisa jadi contoh (qudwah) yang baik baginya. Jangan sering mengucapkan kalimat yang tidak baik, karena ia akan mengikutinya. Jangan pula melakukan perbuatan yang pernah kita melarangnya, karena ia akan menjadi tidak percaya pada setiap larangan yang kita ucapkan.                 Kesimpulan diatas telah menggambarkan bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga dan dididik, anak juga ujian yang diberikan Allah senantiasa membantu para orang tua dalam mendidik anak, karena orang tua adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, semoga Allah menjadikan semua anak kita sholeh dan sholehah “ Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatuna qurrata ‘ayun waj ‘alna lil muttaqina imama”. Wallahu alam bishshawab.

TAKWA : MEMBANGUN KEMANUSIAAN

Oleh : KH. Dr. Amir Faishol Fath, MA

Salah satu tujuan syari’ah “Maqashidusy syari’ah”  adalah menjaga jiwa “hifzhun nafs”. Dengan kata lain membangun kemanusiaan. Maka, segala yang merusak jiwa dalam Islam diharamkan. Seperti, bunuh diri ataupun membunuh orang dengan cara yang dzalim itupun diharamkan karena dapat merusak jiwa. Allah SWT berfirman :

وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلِكَةِ

janganlah kamu jatuhkan ( diri sendiri ) kedalam kebinasaan “ ( Q.S. Al-Baqarah : 195 )

                Karenanya, dalam situasi yang akan menyebabkan hancurnya jiwa syari’ah hadir untuk memberikan solusi. Jika, ternyata tidak ada solusi kecuali dengan cara yang tidak dibolehkan ( haram ) maka itu, dikatagorikan sebagai darurat. Al-Qur’an telah meletakkan dasar-dasar berpikir,  supaya ummat ini tetap menyelamatkan jiwanya. Antara lain, sebagai berikut :

  1. Dalam Surah Al-Baqarah : 185 Allah berifirman :

يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”

2. Tentang dibolehkannya melakukan yang tidak boleh dalam kondisi darurat dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah : 173

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا اِثْمَ عَلَيْهِ

siapa terpaksa ( memakannya ) bukan karena menginginkannya dan tidak ( pula ) melampaui batas. Maka, tidak ada dosa baginya”

3. Dibolehkannya makan yang dilarang ( haram ) karena lapar, dan tidak ada pilihan lain dan bukan karena ingin melanggar simak dalam Surah Al-Maidah : 3

فَمَنِ اضْطُرَّفِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَا نِفٍ لِّاِثْمٍ فَاِنَّ اللهُ غَفُوْرُ رَّحِيْمٌ

siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa. Maka sungguh,  Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang “

4. Dalam Hadits Rasulullah saw, bersabda لا ضرر ولا ضرار  tidak boleh menyebabkan bahaya bagi orang lain, dan tidak boleh membahayakan dirinya sendiri ( H.R Ibn Majah : 2340, Sahih )

Dari dalil-dalil diatas, lahirlah berbagai kaidah fikih yang bisa dijadikan landasan. Bagaimana

menjaga jiwa ini, sebagai tujuan syari’ah. Antara lain, sebagai berikut :

  1. kaidah Fikih        :  الضرر يزال   “ semua yang membahayakan harus dihindari “
  2. kaidah Fikih        :  درء المفاسد مقدم على جلب المصالحmenghindari bahaya lebih diutamakan, dari pada mengambil manfaat “
  3. kaidah Fikih        : الأمر إذا ضاق اتسع  “ segala sesuatu jika sempit, maka menjadi luas “
  4. kaidah Fikih        : الحكم يتبع المصلحة الراجحة     “Hukum itu, mengikuti mashalahat yang lebih kuat “
  5. kaidah Fikih        : الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما  “ ada tidaknya hokum, tergantung illah ( sebab ) nya “

Berdasarkan semua itu, kita mengerti bagaimana Islam menjaga jiwa. Betapa mahalnya jiwa dalam ajaran Allah swt, bahwa kita bertanggung jawab untuk menjaga jiwa ini. Jika suatu saat kita berhadapan dengan situasi yang akan menyebabkan bahaya pada jiwa, seperti menyebarnya wabah corona yang sedang kita alami sekarang. Maka, kita sudah mempunyai pijakan sebagai berikut :

1. Antara mejalankan kewajiban, atau menjaga jiwa seperti sholat dalam kondisi perang. Maka itu tidak mungkin bisa, kita harus tetap sholat dengan cara yang telah dipandukan dalam sholat khauf.

2. Antara menjalankan Ibadah yang hukumnya wajib, tetapi bisa diganti dengan ibadah lainnya atau menjaga jiwa, seperti sholat jum’at dimasjid, atau sholat dzuhur dirumah. Maka, boleh memilih sholat dzuhur dirumah demi kemaslahatan jiwa

3. Antara menjalankan amalan, yang hukumnya Sunnah atau menjaga jiwa seperti sholat berjama’ah dimasjid. Maka, boleh sholat dirumah saja jika kehadiran dimasjid akan membahayakan jiwa.

                Justru, termasuk bertakwa kita menjaga jiwa. Sebab, ini perintah Allah swt janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam bahaya. Seperti pada ayat diatas, dan dicontohkan oleh Nabi Saw sebagai berikut :

عَنِ النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ : إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُوْنِ بِأَرْضِ فَلَا تَدْخُلُوْهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضِ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوْا مِنْهَا

jika kamu mendengar wabah Tha’un disebuah tempat, janganlah memasukinya. Sebaliknya, jika kamu berada disebuah tempat yang sudah terjangkit wabah Tha’un janganlah keluar dari tempat tersebut”      ( H.R Bukhari )

                Apakah ketika Nabi saw, mengajarkan ikhtiar seperti itu dianggap tidak beriman dengan takdir ? apakah ketika anda mencemplungkan diri dalam bahaya baik bagi diri anda maupun orang lain? Itu bukti bahwa anda lebih beriman dari pada Nabi saw.

                Atau, apakah ketika Umar r.a lemah imannya kepada takdir Allah dan ia berkata “ kita hindari tempat  yang ada Wabah Tha’un, pindah ketempat lain “

                Takwa artinya melakukan ikhtiar semaksimal kemampuan untuk menjaga jiwa. Yang haram saja boleh dilakukan, dalam kondisi darurat untuk menjaga jiwa. Apalagi yang ada pilihannya seperti sholat Jum’at atau sholat dzuhur atau yang hukumnya Sunnah sekalipun, seperti sholat berjama’ah dimasjid atau dirumah.

                Mungkin ada yang berkata “mengapa kita hebohkan masalah kemasjid ? sementara ke mall atau tempat maksiat tidak dihebohkan ?”

                Ingat, bahwa kondisi virus corona ini sedang serius. Dan sangat membahayakan jiwa, tujuan syari’ah adalah menjaga jiwa. Jika, kemasjid akan mengakibatkan rusaknya jiwa karena bercampurnya dengan orang banyak disana, maka lebih diutamakan jangan pergi kemasjid. Bukan maksud meremehkan masjid, tetapi karena situasi yang tidak memungkinkan dengan ketentuan hukum ini.

                Seharusnya, setiap orang faham bahwa kalau kemasjid saja sebaiknya dihindari apalagi ke mall yang tidak ada tujuan ibadah disana. Lebih tidak boleh lagi pergi ketempat-tempat yang berdosa, seharusnya begitu kita memahami hukum diatas. Wallahu’alam biishowab.

TAKWA: JALAN SUKSES DUNIA AKHIRAT

Oleh KH. DR. Amir Faishol Fath, MA

Allah swt membagi hidup manusia dengan dua tahap : dunia dan akhirat. Kata dunia berasal dari kata   دنا يدنو artinya dekat. Serba sementara, dan tidak lama. Di dunia, semua makhuk pasti berakhir. Tidak ada yang abadi. Oleh sebab itu, setiap kali membeli makanan atau obat-obatan selalu ditulis tanggal expaired. Artinya apapun di dunia akan musnah cepat atau lambat. Ini bukti bahwa, manusia harus cerdas.

 Nabi berdsabda : “orang cerdas adalah orang yang berhasil mengendalikan nafsunya dan menyiapkan hidup sesudah mati. الكيس من دان نفسه وعمل لمت بعد الموت . Maka ia akan menyiapkan apa saja yang akan dibawa pulang menuju kematian. Kematian adalah langkah awal pindah ke akhirat. Jadi, orang yang mati otomatis ia sudah mengalami Kiamat dan sudah pindah ke alam lain itulah barzah sebagai tahap awal dari kehidupan akhirat”

Adapun kata akhirat الآخرة artinya akhir kehidupan. Tidak ada mati lagi setelah itu. Syarat untuk pindah ke akhirat harus mati lebih dahulu, dan harus dunia dihancurkan. Peristiwa kematian dan hancurnya dunia disebut sebagai Kiamat.

 ada ungkapan yang sangat terkenal : “من مات فقد قامت قيامته” Siapa yang mati otomatis dia telah mengalami kiamat.

Segala penyesalan hanya berakhir di sana. Ia tidak bisa memperbaiki lagi apa yang telah ia lalui, Ketentuan Allah berlaku bahwa dunia, hanya untuk amal tanpa balasan. Adapun akhirat, tempat menuai balasan tanpa amal. Maka, hanya dengan bersungguhh-sungguh beramal baik selama di dunia kebahagiaan akhirat akan dicapai.

 Sungguh, celaka orang yang telah menyaia-nyiakan kesempatan hidup di dunia dengan dosa dan maksiat. Padahal, kehidupan dunia adalah tahapan persiapan untuk membangun akhirat. Tetapi, aying banyak orang tidak menyadari hakikat ini. Sehingga dunia hanya dilalui begitu saja tanpa makna untuk akhiratnya.

Allah swt. Berfirman :

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ

“  yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al Mulk :2) “

Takwa artinya bersungguh-sungguh melakukan amal yang paling baik “ahsanu amalaa” untuk menjadai bekal menuju akhirat. Orang yang cerfdas pasti  bertakwa. Sebab, ia tahu tabiat perjalanan.

Pepatah mengtakan : sedia payumg sebelum hujan. من عرف بعد السفر استعد  “Siapa yang tahu bahwa perjalan yang akan ditempuh sangat jauh maka pasti ia akan bersiap-siap”.

 Orang yang bertakwa, benar-benar menyadari bahwa perjalanan ini menuju akhirat. Maka ia benar-benar mempersiapkan amal salih sebaik-baiknya. Sebab hanya amal salih yang bisa bermanfaat kelak setibanya di akhirat.

Orang-orang kafir tidak beriman adanya alam akhirat. Baginya, kehidupan ini hanyalah dunia. Maka jadikan dunia sebagai tujuan. Ia lakukan segala cara untuk merebut dunia. Akibatnya,  ia pasti akan menyesal nanti setibanya di akhirat. Allah swt. berfirman :

وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

Mereka berkata, “Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” ( QS. Al Mulk : 10)

Benar, orang-orang kafir itu menyesal. Karena selama di dunia mereka tidak menggunakan akalnya. Seandainya mereka mau berikir sejenak, niscaya mereka akan berkata bahwa alam semesta ini pasti ada yang punya. Dialah Sang pencipta. Lalu ia akan berkata : “sang pencipta pasti punya tujuan dan aturan. Sebab sebauh perusahaan saja mempunyai tujuan dan aturan”

 Dari sini ia akan mencari mana tujuan dan aturan hidup dia muka bumi ini. Kalau sejenak saja ia mau mencari pasti akan mendapatkan jawaban itulah Islam.

Takwa artinya ikut Islam dengan sebenar-benarnya secara lengkap. Bukan hanya ikut Islam di masjid sementara di kantor ikut hawa nafsu. Bukan hanya menjadi muslim namanya saja, sementara perbuatannya tidak ada bedanya dengan orang kafir, seperti korupsi, menipu, berzina, makan riba dan sebagainya. Islam adalah jalan hidup secara utuh. Maka, jika ingin manjadi seorang muslim jadilah muslim yang lengkap, Inilah makna ayat : 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً  ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“ Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”  ( QS. Al Baqarah 208)

BERTAKWA ADALAH KENISCAYAAN

Oleh KH. DR. Amir Faishol Fath, MA.

Setiap manusia wajib bertakwa kepada Allah. Sebab takwa artinya bersungguh-sungguh ikut Allah swt. Mengapa kita harus ikut Allah swt? Sebab, Dia-lah pemilik alam semesta dan Dia-lah pemilik semua manusia. Sebagai makhluk yang berakal manusia harus mentaati aturan-Nya. Ibarat perususahaan, siapapun yang terdaftar di dalamnya wajib ikut aturan yang telah ditetapkan.

Dalam Al-Qur’an telah dipastikan, beberapa kondisi kerena ketakwaan para hamba Allah swt :

  • Pertama, Allah swt.memastikan bahwa syarat untuk ikut Al Quran adalah mempunyai kualitas takwa.

Allah swt. berfirman dalam surah Al Baqarah : 2 

ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين

Inilah Al Quran, tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Mengapa hanya yang bertakwa yang Allah sebutkan di sini? Mengapa Allah tidak menyebutkan petunjuk bagi orang yang beriman?

 Para ulama tafsir menjelaskan bahwa banyak mereka yang mengaku beriman, kepada Al-Qur’an. Tetapi, kenyataannya tidak ikut apa kata Al-Qur’an. Lihatlah, mereka tidak takut berzina, korupsi, berbohong, menipu dan sebagainya. Padahal, mereka tahu itu semua diharamkan dalam Al-Qur’an. Di sini kita mengerti mengapa Allah swt. hanya menyebutkan mereka yang bertakwa? Sebab, hanya mereka yang bertakwa itulah yang siap ikut aturan Al-Quran secara utuh.

  • Kedua, Allah menegaskan bahwa syarat untuk menadapatkan kemenangan adalah harus bertakwa.

Allah berfirman tentang kisah Nabi Musa a.s : 

والعاقبة للمتقين

“ Dan kemenangan hanyalah bagi mereka yang bertakwa “ (QS. Al Araf 128) .

Suatu hari Umar bin al Khaththab ra. pernah berpesan kepada pasukan Al Qadisyah : “bertawalah kalian kepada Allah, sebab kalian ditolong oleh Allah swt. karena dosa-dosa musuh kalian. Maka apabila kalian melakukan dosa yang sama, kalian akan berhadapan dengan kekuatan musuh tanpa pertolongan dari Allah swt. “

Ini pesan yang sangat menentukan. Bahwa tidak mungkin semua kemenangan terjadi tanpa pertolongan Allah swt.

  • Ketiga, surga sebagai tempat kebahagaiaan abadi hanyalah dipersipakan bagi mereka yang bertakwa.

Dalam surah Ali Imran 133, Allah berfirman :

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

” Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga, yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa “

Dalam surah An Naba’ 31,  dipertegas lagi :

اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan” Generasi pertama umat ini menang karena mereka bertakwa. Padahal, ketika itu mereka tidak memegang laptop, pesawat terbang,  Handphone dan sebagainya. Silahkan, kita yang hidup di zaman akhir, dengan segala fasilitas teknologi yang canggih. Itu semua tidak akan pernah membantu keberkahan kita, tanpa kita bertakwa kepada Allah swt.

(wallahu a’lam bishsowab).

Mengatasi Konflik Rumah Tangga

Oleh Ustadzah Dia Hidayati, MA.

Sepandai-pandai tupai melompat, suatu saat ia akan jatuh ke tanah. Sepandai-pandai suami-istri menhindari konflik suatu saat akan terkena juga. Konflik adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah kebersamaan, kalau tidak mau dikatakan bagain dari sunnatullah. Allah SWT. membekali masing-masing manusia dengan keinginan, presepsi, kemampuan berpikir yang beragam. Keberagaman tidak akan pernah lepas dari perbedaan. Dari perbedaan inilah konflik selalu muncul. Tak terkecuali dalam rumah tangga.

                Tetapi konflik seharusnya jangan dilihat sebagai masalah. Ibarat sambel yang selalu mengundang semangat makan, konflik sering memperbaharui cinta, dan membuat dinamika rumah tangga indah. Hampir dipastikan bahwa setiap orang tidak mau konflik. Tapi bagaimanapun konflik akan selalu tiba-tiba datang di luar perkiraan. Bila ternyata demikian, persoalannya sekarang adalah bagaimana cara mengatasi konflik rumah tangga? Apa yang harus segera dilakukan seorang suami bila titik api itu muncul tiba-tiba dari pihak istri? Atau sebaliknya?

                Imam As Samarqandi dalam bukunya “tanbihul ghafilin” meriwayatkan sebuah kisah, bahwa seorang laki-laki pernah datang kepada Umar bin Khattab, ingin menceritakan prilaku istrinya yang selalu cemberut dan nampak tidak bersahabat. Ketika tiba di depan pintu rumah Umar, sahabat itu mendengar istri Umar Ummu Kultsum sedang ngomel. Seketika laki-laki itu berbalik. Dari balik jendela Umar segera memanggilnya. Laki-laki itu lalu menceritakan keinginannya. Setelah mendengar permasalahannya, umar berkata: Aku dengarkan baik-baik omelan istriku, dan tidak sedikitpun aku melawannya, karena beberapa alasan: Pertama, Ia adalah penghalang antara aku dan api neraka, hatiku selalu berteduh kepadanya sehingga aku terjaga dari perbuatan haram. Kedua, ia menjaga hartaku ketika aku pergi. Ketiga, ia selalu mencuci pakaianku. Keempat, ia membesarkan dan mendidik anak-anakku. Kelima, ia selalu membuat masakan untukku. (As Samarqandi, Tanbihul ghafilin, (Bairut, Darul Kitab al Araby) 2002, h.280).

                Bila konflik menimpa keluarga seorang sahabat Rasulullah saw, seperti dalam riwayat di atas, itu menunjukkan bahwa tidak mustahil ia akan lebih banyak kemungkinan menimpa keluarga lain. Tapi yang sangat menarik untuk kita jadikan pelajaran dari kisah di atas adalah bagaimana Umar mengatasinya. Dalam banyak riwayat Umar terkenal seorang sahabat yang sangat keras. Bila melihat sebagian sahabat melakukan kesalahan, umar sealalu bilang “da’ni laaqta’anna ‘unuqahu” (biarkan aku memotong lehernya). Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. pernah menggambarkan, bahwa bila umar datang, syetan lari tunggang langgang ketakutan. Badan Umar terkenal tinggi dan gagah. Bila menunggangi kuda, kaki Umar menyentuh tanah. Bila semua sahabat Rasulullah SAW berkumpul, yang nampak menonjol Umar dan Khalid bin Walid. Tapi itu semua tidak membuat Umar mudah bertindak keras kepada istrinya. Bahkan di saat-saat istrinya ngomel Umar malah diam, tidak melemparkan balasan sepatah katapun. Ini menunjukkan kepribadian Umar yang demikian matang dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Sehingga ia tidak mudah terpancing emosi, bahkan ia mampu mengendalikannya sebaik mungkin.

                Setidaknya kisah di atas telah menggambarkan beberapa langkah strategis yang bisa kita ambil untuk diamalkan dalam mengatasi konflik rumah tangga: Pertama, Sikap seorang laki-laki yang tidak segera mengambil tindakan frontal dan emosional dalam menyikapi istrinya yang sedang marah. Ia malah segera minta pendapat Umar  yang pada waktu itu sedang menjabat sebagai khalifah. Ini salah satu cara yang bijak. Artinya bila sebuah rumah tangga sedang mengalami konflik, hendaknya suami atau istri segera mencari solusi untuk mneyelesaikannya. Jika bisa di atasi sendiri itu lebih baik. Jika tidak ia hendaknya segera mendatangi Ustadz (seorang yang alim) atau pemimpinnya untuk bermusyawarah atau konsultasi. Dalam langkah ini hendaknya ia benar-benar ikhlash mencari jalan keluar bukan untuk mencari kambing hitam.

                Kedua, Sikap Umar  yang segera menyadari bahwa suatu hal yang wajar jika istri kadang ngomel kepada suami. Karena kalau bukan kepada suami kepada siapa lagi ia akan ngomel. Ketika itu Umar mengambil tindakan yang sangat bijak. Ia membuka hati seluas-luasnya sehingga omelan itu menjadi kecil. Umar melihat bahwa bertindak keras yang mengucilkan istri –sekalipun itu baginya sangat mudah ia lakukan- bukan solusi terbaik. Karenanya ia memilih diam dan menyimak dangan santun segala apa yang diomelkan istrinya.

                Ketiga, Umar melihat seorang istri adalah partner menuju Allah yang senantiasa mengingatkannya kepada ketaatan dan menjaganya dari api neraka. Dari sini nampak bahwa istri bagi Umar bukan sekedar untuk pemuas nafsu sesaat. Suatu cara pandang sangat mulia, sehingga setiap terjadi konflik, ia berusaha segera mengatasinya, karena ia melihat bahwa perjalanan menuju Allah masih panjang dan harus digalang bersama-sama secara harmonis.

                Keempat, Umar segera ingat akan keterbatasan dirinya dan jasa istrinya dalam menopang banyak hal yang tidak bisa ia lakukan sendiri, terutama dalam mendidik anak-anak. Tidak seorangpun yang dapat memungkiri fungsi seorang ibu bagi anaknya, sejak dalam kandungan hingga dilahirkan, ia selalu standby 24jam. Istri tidak saja menjadi seorang ibu yang merawat dan menjaga anaknya tetapi juga berfungsi sebagai pendidik pertama sebelum anaknya masuk kejenjang pendidikan formal, dengan demikian dapat dipastikan betapa capeknya seorang istri. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sehebat-hebatnya seorang suami ia tidak akan bisa tegak sendirian (baca: tidak bisa melakukan segala hal sendiri) tanpa ditopang oleh seorang istri. Dengan mengingat kekurangan diri masing-masing yang hanya bisa disempurnakan secara bersama-sama (suami-istri), konflik apapun dalam rumah tangga akan segera di atasi tanpa berlarut-larut.

                Kelima, Umar menyadari, bahwa memadamkan api tidak bisa dengan api, melainkan dengan air. Demikian juga memadamkan kemarahan tidak bisa dengan kemarahan. Dari sini Umar telah menjadi air bagi api yang datang membara. demikian juga, bila ternyata titik kemarahan itu muncul dari suami, seorang istri harus segera menjadi air dan memadamkannya. Sehingga dengan demikian konflik akan segera padam tanpa menuntut pikiran dan perasaan yang berlama-lama.  Berbahagialah rumah tangga yang bisa menegakkan fungsi secara seimbang antara air dan api.

                Keenam, Umar menyadari bahwa kemarahan adalah hal yang manusiawi. Justru tidak manusiawi kalau seorang istri tidak pernah marah. Pada batas-batas yang manusiawi Umar tidak menuntut hal yang diluar kemampuannya. Karenanya Umar tidak melawannya dengan kemarahan. Tetapi dalam hal yang manusiawi dan itu harus ditegakkan secara utuh, Umar sangat tegas, lebih tegas lagi kepada keluarganya. Perhatikan ketika Umar menjabat sebagai khalifah, Umar mengatakan kepada keluarganya, bahwa “siapa yang melanggar hukum di antara kalian, balasannya akan dilipat gandakan”.

                Ketujuh, Umar menyadari bahwa konflik pasti terjadi, karenanya tidak perlu dibesar-besarkan, di luar itu banyak tugas yang lebih besar. Dari sini nampak bahwa Umar selalu berpikir besar, dengan tanpa meremehkan sama sekali masalah kecil. Artinya ia menyikapi setiap permasalahan sesuai dengan porsinya, bila masalah itu tidak perlu dibesar-besarkan, Umar melihat dengan kaca mata yang bijak, sehingga sang istri merasa telah terlayani persoalannya dan Umar juga segera pindah pada pekerjaan yang lebih penting, tanpa meletakkan persoalan tersebut sebagai beban pikiran dan perasaan. Ia menganggapnya selesai dan istrinya merasa puas. Apapun, keluarga yang damai dan tentram serta penuh kasih sayang adalah dambaan setiap manusia yang normal. Sementara itu konflik atau badai besar atau kecil pasti akan hadir dalam kehidupan berumah tangga, maka kemampuan kita dalam mengendalikan badai tersebut akan menentukan harapan yang kita cita-citakan, mampukah kita mengendalikannya atau ia akan menghancurkan kehidupan rumah tangga kita? Belajarlah dari siapa saja, dalam mengatasi konflik, seperti kali ini kita belajar dari Umar. Sebab alhikmatu dhallatul mu’min (hikmah adalah milik orang mukmin yang hilang).

TAKWA MEMBANGUN PERSAUDARAAN

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Allah swt. berfirman :

 يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصا دقين

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bergabungkan dengan orang-orang yang jujur. (QS. At Taubah 119)

Ayat ini menjelaskan agar orang beriman dan bertakwa. Tetapi yang menarik adalah perintah Allah swt. berikutnya : ” wa kuunuu ma’ashsshaadiqiin “. (bergabunglah dengan orang-orang yang jujur).  Bahwa untuk membangun kualitas takwa ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi :

  1. Iman yang jujur. Karena itu yang Allah panggil adalah orang-orang beriman. Sebab,  tidak cukup seorang hanya mengaku beriman. Melainkan,  harus membuktikan imannya secara nyata, dalam bentuk perbuatan. Berupa ketaatan kepada Allah swt. menjauhi laranganNya dan bersungguh-sungguh mengajak orang lain agar ikut beriman. Seorang mukmin harus punya sikap tersebut karena telah tercelup dalam warna iman.

صبغة الله ج ومن احسن من الله صبغة  صلى  ونحن له عبدون

                “ sibghah Allah “ Siapa yang lebih baik dari Sibghah­-nya daripada Allah ? dan KepadaNya kami menyembah  . ( QS. Al Baqarah : 138)

                Seorang mukmin tidak boleh menjadi seperti orang plin-plan. Tidak jelas. Ikut-ikutan orang kafir. Warna yang paling kontras dari tampilan seorang mukmin adalah takwa. Sekalipun secara nyata orang-orang beriman itu membaur dalam pergaulan dunia. Tetapi,  ia berbeda karena prinsip-prinsipnya yang jelas. Apa yang Allah halalkan, ia lakukan dan apa yang Allah haramkan ia jauhi. Sebab, agama Islam yang mereka anut bukan karangan mereka sendiri. Satu huruf pun mereka tidak boleh campur tangan dengan mengubah teks Al-Qur’an dan Al Hadits sebagai buku panduannya.

                2. Bertakwa, yang artinya berhati-hati dari dosa. Seorang mukmin pasti takut berbuat dosa. Ia yakin bahwa sekecil apapun dosa pasti nampak bagi Allah swt. :

                فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره 

                “ Siapa berbuat baik sekecil zarrah pun, Allah pasti melihatnya, dan siapa berbuat buruk sekecil zarah pun Allah pasti melihatnya.” (QS. Az Zalzalah 7-8)

                Dalam ayat lain :

                يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور

                “ Allah mengetahui   kemana mata ini berkhianat  dan Allah  juga tahu   apa yang tersembunyi  dalam dada”  (QS. Ghafir 19)

                Artinya tidak mungkin seseorang bersembunyi dari Allah swt. Kelak di hari Kiamat Allah langsung yang akan menghisab kita. Allah berfirman :

                يوم يقوم الناس لرب العالمين

                “ Pada hari itu orang-orang berdiri di hadapan Allah Pemilik alam semseta ” (QS. Almuthafifin : 6

                Berdiri disini makasudnya,  mempertanggungjawabkan segala amal yang telah diperbuat selama di dunia.

                Takwa artinya menyadari makna ini dengan sedalam-dalamnya. Bahwa, tidak mungkin kita berpura-pura dengan Allah swt. Silahkan di dunia seseorang mengemas dosa , dan kezalimannya dengan berbagai cara pencitraan. Boleh jadi, banyak orang tidak tahu hakikatnya tetapi Allah swt. pasti mengetahui semua itu. Maka, orang beriman yang bertakwa tidak mungkin berbuat zalim, melakukan dosa-dosa besar seperti membunuh, berzina, berbohong, menipu dan sebagainya. Inilah hakikat takwa yang sebenarnya.

                3. Bergabung dengan orang-orang yang jujur. Dalam kata bergabung,  ada makna persaudaraan dan keberpihakan. Tidak mungkin seorang mukmin berbuat zalim pada sesama. Kepada orang lain yang beda iman saja tidak boleh apalagi kepada sesama beriman. Seorang mukmin adalah contoh peribadi yang menegakkan kedamaian. Dalam sejarah Islam, ketika umat ini memimpin seperempat dunia, tidak ada cerita bahwa satu tempat ibadah non muslim dihancurkan. Tidak ada rekaman bahwa satu non muslim diperlakukan secara tidak adil. Semua merasakan indahnya perdamaian dan kedamaian yang dicontohkan orang beriman.

Bahkan, mereka bersaksi bahwa kedamaian di bawah kepemimpinan orang-orang beriman telah membuat mereka terjamin. Sekarang, kita menyaksikan kenyataan terbalik. Mereka berupaya mencontoh peradaban Islam di negar-negara mereka, sekalipun mereka tidak mengambil konsep imannya, sementara orang-orang beriman  malah memperakterakan kedzoliman dan keindikatoran. Padahal seharusnya, mereka tinggal mencontohkan pendahulunya yang telah berhasil mengamalkan islam secara utuh.

                Dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Inilah makna ayat :

إنما المؤمنون إخوة فاصلحوا بين أخويكم واتقو الله لعلكم ترحمون

sesungguhnya orang-orang yang beriman pasti bersaudara, maka hendaklah meraka melakukan perbaikan diantara sesama saudara kalian. Dan bertakwaklah agar kalian mendapatkan Rahmat “ ( Q.s Al-Hujrat : 10 )