oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Tidak akan pernah habis kata takwa dibahas. Sebab semua inti pesan Al-Qur’an adalah mengajak agar kita bertakwa. Seorang mungkin bertanya mengapa setiap khatib selalu mengajak bertakwa?  Tentu pertanyaan ini wajar. Sebab,  dahulu pernah juga Umar bin Khaththab seorang sahabat nabi saw.  bertanya mengenai hal sama. Apa itu takwa? Pertanyaan itu tak kunjung menemukan jawaban. Sampai kemudian,  ia bertemu dengan sahabat yang lain bernama Ubay bin Ka’ab ra.

Ubay seorang sahabat yang alim. Ia rujukan dalam ilmu Al-Qur’an. Pernah suatu hari surah Al-Bayyinah  turun kepada Rasulullah saw. Malaikat Jibril a.s Yang membawanya menyampaikan pesan dari Allah swt, agar surah tersebut dibacakan kepada Ubay. Tidak lama setelah itu, Rasulullah SAW menyampaikan kepada Ubay.  

“Wahai Ubay, aku diperintahkan Allah swt. agar membacakan surah ini kepadamu” kata Nabi.

“Surah apa itu wahai Rasul ? “ Tanya Ubay.

“Surah Al bayyinah “  jawab Nabi.

“Apakah namaku disebut wahai Rasul? “ Ubay kembali bertanya.

“Ya, namamu disebut  Allah swt. “ jawab Nabi.

Seketilka Ubay menangis terharu,  dan senang karena namanya dimuliyakan  Allah swt. Inilah kedudukan Ubay bin Ka’ab ra. Wajar kalau Umar bertanya kepadanya. Kedudukan Ubay yang tinggi tidak hanya secara keilmuan.  Tetapi juga di sisi Allah swt,  telah menempatkannya sebagai rujukan ilmu Al-Qur’an pada masa itu dan sepanjang masa. Kita lanjutkan kisah pertemuan Umar dan Ubay :

“ Wahai Ubay, apa itu takwa ? “ kata Umar

“ Apakah anda pernah melewati jalan yang penuh dengan duri wahai Umar ? Ubay balik bertanya.

“ Ya, pernah “ Jawab Umar.

“ Apa yang anda lakukan pada waktu itu ? “ kata Ubay.

“ Aku berhati-hati” Jawab Umar.

“ Itulah takwa wahai Umar “ jawab Ubay.

Menarik kita menyimak dialog ini. Ubay tidak langsung menjelaskan makna bahasa “takwa”. Melainkan,  dengan menggunakan perumpamaan. Bahwa, orang yang ingin paham apa itu takwa cukuplah anda posisikan diri seakan di atas sebuah jalan yang penuh duri.

Bayangkan, apa yang anda lakukan pada saat itu?. Pasti anda akan hati-hati jangan sampai duri itu menusuk tubuh anda. Pasti, anda akan menghindar dari tusukan duri. Pasti anda akan jinjitkan kaki jangan sampai duri itu menusuk kaki anda. Lalu yang menarik adalah jawaban Ubay, bahwa itulah hakikat takwa.

Subhanallah, sangat dalam makna yang dijelaskan Ubay. Bahwa,  takwa bukan sekedar kata-kata. Takwa adalah sikap. Takwa bukan sekedar pengakuan, melainkan sebuah tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang mengaku beriman tetapi tidak bertakwa. Karenanya Allah swt. memanggil yang beriman agar bertakwa.

 “ Yaa ayyuhalladziina aamanuu iitaqullah” (wahai orang yang beriman bertakwalah kepada Allah).  Artinya tidak cukup anda hanya mengaku beriman lalu dalam perbuatan anda tidak ada ketaatan kepada-Nya. Dari penjelasan Ubay, kita mengerti bahwa takwa adalah totalitas kehati-hati-hatian seorang hamba kepada Allah swt. jangan sampai berbuat dosa.  Allah tidak suka hamba-Nya melakukan dosa. Sebab dosa adalah bahan bakar neraka.

Siapapun yang cendrung berbuat dosa ia telah menyiapkan dirinya untuk masuk neraka. Takwa artinya tindakan nyata mentaati Allah swt, supaya tidak masuk neraka. Memang tabi’at manusia tidak bisa terlepas dari salah dan dosa.

 Rasulullah saw bersabda : “kullu banii aadam khaththaa’, wa kahirul khaththaaiin attawwaabuun” yang artinya : setiap anak Adam pasti akan terjatuh dalam dosa. Tetapi sebaik-baik orang yang jatuh dalam dosa ia segera bertaubat kepada Allah swt.

 Ingat, bahwa kita mentaati Allah bukan karena Allah butuh kita. Tetapi kitalah yang butuh dengan  Allah swt. Kita butuh agar segala urusan kita dimudahkan, kita butuh agar badan kita disehatakan,  kita butuh agar anak kita diluluskan dalam ujian. Ini semua karena ditentukan oleh Allah. Tidak ada kekuatan makhluk yang bisa memberikan jaminan atas semua itu.

Saudara, jangan sok merasa hebat karena anda sedang berkuasa, sedang kaya, sedang sukses karirnya, lalu seenak nafsu anda berbuat dosa. Ingat , semua itu dari Allah swt. Tidak ada yang abadi dari apa yang anda miliki. Semua akan berakhir.

Tadi pagi, kita mendengar artis fulan yang sedang naik daun tiba-tiba meninggal dunia. Kemarin konglomereta fulan meningak dunia. Sepekan yang lalu pengusaha fulan meninggal dunia. Sebelumnya raja fulan meninggal dunia. Apa arti semua itu, bahwa kita butuh Allah swt. Inilah kesadaran yang harus selalu kita tanamkan dalam hati. Inilah inti makna takwa yang selalu dipesankan khatib setiap hari Jum’at. 

Takwa adalah kejujuran ikut Allah swt. bukan basa-basi atau pura-pura atau pencitraan. Takwa adalah  kesungguhan menjauhi dosa seperti anda menghindari duri. Dari pesan di atas, kita paham bahwa Ubay r.a. mengumpamakan dosa bagaikan duri. Tentu tidak ada seorangpun di antara yang mau mata ini tertusuk duri, perut ini kemasukan duri, kaki ini terkenak duri. Anda pasti sepakat dengan pernyataan ini.

Maka, takwa adalah  kehati-hatian kita jangan sampai mata ini melihat yang Allah swt. haramkan seperti kita tidak suka duri menusuk mata kita. Takwa adalah kehati-hatian jangan sampai harta masuk ke perut kita, perut istri kita atau perut anak kita seperti kita tidak suka duri masuk ke perut tersebut. Takwa adalah kehati-hatian jangan sampai kaki kita melangkah ke tempat-tempat yang Allah haramkan seperti kita tidak suka duri menusuk kaki ini.

Kenyataanya, memang masih banyak dari kita yang sudah mengaku beriman belum bertakwa. Dalam keseharian kita masih sering mata ini melihat yang Allah haramkan, minimal sia-sia. Masih banyak dari saudara kita yang beriman,  tidak merasa malu makan harta hasil koruspsi.

Boleh jadi,  ia berkata “aku tidak makan harta hasil korupsi itu, tetapi hanya aku pakai buat kampanye”  Sama saja, itu semua haram.  Apa yang anda pakai,  sama dengan apa yang makan. Tidak ada bedanya. Semua adalah dosa, dan semua pasti akan dihisab oleh Allah swt. Dengarkan Allah berfirman : “inna ilainaa iyabahun tsumma inna ‘alaina hisaabuhum” (Sesunnguhnya mereka pasti akan kembali kepadaKu dan Aku pasti akan menghisab mereka).