oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

bagian 2 habis

Dan Kami jadikan malammu sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS. 78:10-11)

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamumencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (QS. 28:73)

Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerinthkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (QS.  7:54)

Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 31:29)

Tugas Utama Manusia: Memberdayakan Diri Untuk Allah

                Kata rizqan lakum (sebagai rezkiuntukmu) dan sakhkhara lakum (menundukkan untukmu) seperti pada ayat diatas telah mengesankan beberapa makna:

  1. Bahwa manusia adalah makhluk yang sangat Allah muliakan. Artinya ketika Allah menciptakan matahari, menurunkan hujan, menyediakan laut, sungai dan seterusnya itu semua tidak lain hanyalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Karenanya yang Allah panggil dalam Al Qur’an, untuk menjalankan tugas-tugas di bumi adalah manusia. Para Nabi Allah utus dari golongan manusia. Seruan yaayyuhannas atau yaayyuhalladzinan amanuu yang demikian banyak dalam Al Qur’an itu maksudnya manusia. Termasuk dhamir “kum” dalam ayat di atas arahnya kepada manusia. Dari segi bentuk fisik pun penciptaan manusia juga Allah pilihkan yang terbaik “ahsanu taqwiim”. Semua ini mengidentifikasikan pentingnya posisi manusia di atas bumi. Maka sungguh celaka manusia yang mengabaikan kemuliaan posisi ini lalu memilih posisi yang sangat rendah “asfala saafiliin”. Tunduk semata pada tutunan hawa nafsunya sehingga ia terjerembab dalam gaya hidup seperti binatang atau lebih rendah lagi “ulaaika kal an’aam balhum adhallu waulaaika humul ghaafiluun”.
  • Bahwa amanah penciptaan langit dan bumi diserahkan kepada manusia. Terserah untuk ia manfaatkan. Sebagai sarana pengabdian kepada Allah atau kepada syetan? Manusia diberi dua pilihan: jalan syukur atau kufur. Bila jalan syukur ia tempuh ia akan menjadi selamat di dunia dan akhirat. Sebaliknya bila jalan kufur yang dipilih ia akan menuai kecelakaan. Dalam surat Al Jatsiyah Allah menegaskan:”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.(QS. 45:13)

Perhatikan bahwa proses pemberdayaan ciptaan Allah ini sebagai rahmah (kasih sayang Allah) yang tak terhingga kepada manusia. Untuk apa? Supaya manusia beriman dan tunduk hanya kepadaNya. Dalam rangka ini manusia harus menggunakan akalnya. Itulah makna dari ayat: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.

        Surat Al Hajj lebih tegas lagi menggambarkan eratnya pemberdayaan ciptaan alam dengan keharusan sikap syukur, Allah berfirman:”Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS. 22:36). Mensyukuri nikmat yang sedemikian agungnya adalah bagian dari tugas utama manusia.

        Syukur artinya merasakan agungnya nikmat Allah dan menampakannya sebagai amanah yang harus dipikul sesuai dengan kehendak pemberinya. Kebalikan syukur adalah kufur. Kufur artinya melupakan nikmat yang diterimanya dan berusaha untuk mengingkarinya (lihat Ar Raghib, hal.461). perhatikan ayat “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) “kafartum”, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14:7).

  • Allah selalu mengajak manusia dengan pendekatan yang snagat mendidik dan persuasif. Kepada rasulNya pun mengajarkan “lasta alaihim bimusaithir”. Tidak ada unsur paksaan, melainkan dengan mengingatkan akan keagungan nikmat yang diberikan kepadanya. Itulah cerminan dari makna rizqan lakum dan sakhkhara lakum. Seakan ditampakkan didepan matanya bukti-bukti yang sangat dekat dengan dirinya dan begitu akurat, sehingga akalnya tidak bisa membantah. Karenanya pada ayat selanjutnya Allah berfirman: Dan jika kamu menghitung nikmat  Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Ungkap seperti ini terus diulang-ulang dengan gaya yang sangat indah,variatif dan menggelitik. Siapapun yang membaca Al Qur’an dengan mata hatinya akan tunduk bersujud, mempersaksikan dirinya sebagai hambaNya dan akan berakata seperti yang direkam dalam ayat:”Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:191) “Maha suci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya (QS. 43:13)
  • Bahwa setelah nikmat-nikmat  yang terjangkau jumlahnya itu, sekalipun dihitung dengan kalkukator yang paling canggih, ada tugas yang harus dipikul oleh manusia. Bahwa manusia kelak di Hari Kiamat, akan mempertanggung-jawaban sekecil apapun dari nikmat-nikmat tersebut. Kepada apa saja nikmat-nikmat itu digunakan? Karenanya selalu diingatkan dengan kata rizqan lakum dan sakhkhara. Supaya tersadar bahwa semua itu diberikan bukan sekedar pemberian tanpa makna. Bahwa semua itu diterima dengan segala konsekuensi yang harus direalisasikan. Bila proses realisasinya salah, ia akan menuai siksaan. Dan bila realisasinya sejalan dengan aturan Sang Pemberi ia akan menuai pahala yang setimpal. Dengan kata lain, setelah nikmat-nikmat itu diberdayakan untuk manusia secara maksimal, maka tidak ada pilihan bagi manusia kecuali memberdayakan dirinya untuk Allah semata. Sekecil apapun yang ia lakukan hendaknya selalu dalam rangka menegakkan ajaranNya, dalam diri, rumah, masyarakat dan negaranya.

                Hanya saja, sangat sedikit manusia yang menyadari hakikat “waqalilum min ibadiyasy syakuur”. Mereka lebih suka mengutamakan kepentingan dunia daripada akhirat: “bal tu’tsiruunal hayatad dunya”. Karenanya itulah pada ayat di atas Allah berfirman: Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

 Wallahu alam bishshawwab.

                Bila memillih yang kedua, berarti ia telah menentukan pilihan yang paling tepat untuk dirinya dan untuk keseimbangan hidup di alam.

                Benar, Allah tundukkan semua yang di langit dan di bumi untuk manusia sebagai rahmat. Mengapa sebagai rahmat? Sebab ternyata sekalipun telah Allah tundukkan semuanya itu masih banyak manusia yang tidak tunduk kepadaNya. Kendati demikian Allah pernah kapok, Ia tetap melakukan itu. Dan dengan melihat kesungguhan Allah dalam memberdayakan segala sesuatu untuk manusia, manusia akan bahagia.

Wallahu ‘alam bishshawwab

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Leave a Reply

Your email address will not be published.