oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Bagian 1 dari 2

                Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat  zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. 14:32-34)

Makna Taskhir (Pemberdayaan)

                Dalam ayat di atas kita temukan kata sakhkhara berulang-ulang. Dari kata sakhkhara kata taskhir diambil. Imam Al Asfahani menyebutkan makna taskhir adalah “pemberdayaan sesuatu untuk tujuan tertentu secara paksa (tanpa alternatif). (Lihat Arraghib, Mufradat alfadzil Qur’an, (Damaskus, Darul Qalam 1992) h. 402). Dikatakan secara paksa (qahran) karena bagi sesuatu yang ditundukkan as sukhriy tidak ada pilihan kecuali mengikuti kehendak dan keinginan yang memberdayakannya. Dengan mengikuti terjemahnya Al Qur’an versi Depag kata sakhkhara diarikan menundukkan. Dalam Al Qur’an setiap kali disebut kata sakhkhara, hampir selalu dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa segala ciptaan Allah di langit dan dibumi ditundukkan untuk mengikuti system “sunnatullah” yang telah  Allah letakkan.

                Kerapian alam semesta yang demikian mengagumkan ini, menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam ini telah Allah tundukkan: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang” (QS: 67:3) Allah mengajak dengan ayat ini agar manusia benar-benar menyaksikan dengan mata kepalanya betapa ciptaan Allah tidak ada yang  main-main. Perhatikan dan perhatikan sekali lagi jika masih ragu. Kau tidak akan pernah penemukan kerancuan dan ketidak seimbangan. Kalau masih ada sebagian sisi yang belum kamu lihat, coba lihat lagi dan sekali lagi. Sungguh tidak akan pernah ada yang tidak seimbang.

                Gaya ungkap yang sangat menantang dan meyakinkan tersebut, setidaknya mengindikasikan gambaran taskhir Allah yang sangat sempurna terhadap alam semesta dan segala isinya. Pun setidaknya ini membuat manusia semakin terhentak akan kelemahan dirinya. Apalagi ilmu pengetahuan yang dicapainya kian menampakkan kenyataan dari sebagian sisi yang sangat luar biasa itu. Tidak ada pilihan sebenarnya bagi manusia kecuali  harus tunduk secara total kepada Allah sebagai hambaNya. Allah berulang-ulang menegaskan hakikat taskhir ini dalam Al Qur’an,pada hakikat untuk menguatkan makna kehambaan ini. Bahwa manusia diciptakan bukan untuk menandingi kemahadahsyatan Allah SWT,  sebab ia dengan segala yang terdahsyat dari kemampuannya tidak lebih dari hanya karuniaNya.

                Dengan menyaksikan keagungan ciptaan ini, hati manusia ssecara perlahan akan terbuka,untuk kelak bisa menerima cahaya keimanan secara sempurna. Dengan kata lain, taskhir adalah sunnatullah dalam segala wujud. Tanpa taskhir kehidupan di alam ini dipastikan telah berakhir. Tak terkecuali manusia, ia harus mengikuti proses taskhir ini secara seksama. Dan tidak ada aturan taskhir yang paling sempurna dan menentukan bagi keselamatan hidup manusia kecuali aturan Allah SWT. Sebab Dialah Sang Pencipta, maka Dialah yang paling berhak menentukan aturan sesuai dengan tujuan yang diinginkanNya.

Beberapa Bukti Keharusan “Taskhir”

                Ada beberapa bukti dalam ayat di atas bahwa Allah memberdayakan ciptaannya di langit dan di bumi untuk kebutuhan manusia:

  1. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu”. Disini di tegaskan bahwa langit yang demikian agung ini, ditegakkan tanpa tiang, bumi dengan segala isinya, pun hujan yang sedemikian sistematis Allah turunkan, semuanya tidak lain sebagai rezki bagi manusia. Kata rezki sering kali dipahami sebatas hasil usaha yang dilakukan seseorang. Ayat di atas menggambarkan bahwa rezki meliputi setiap nikmat yang kita terima dari Allah SWT.  penciptaan langit, bumi dan semua galaksi, termasuk perputarannya secara sistematis, yang menyebabkan turunnya hujan dan tumbuhnya pepohonan, adalah rezki yang sangat agung tapi sering manusia lalaikan. Diantara rezki yang paling nampak dimana manusia tidak akan pernah mampu membikinnya dengan alat teknologi yang paling canggih sekalipun, adalah buah-buahan “tsamaraat”. Buah yang dihasilkan dari pepohonan ini hanya Allah-lah yang mengatur prosesnya secara alamiyah. Tidak ada seorang pun yang mampu bisa mendatangkannya tanpa proses alamiyah tersebut.
  • Diantara yang Allah tundukkan adalah kendaraan manusia di lautan: “Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya”, benar manusia dengan kemampuannya bisa membikin bahtera. Tetapi bahtera tersebut akan tenggelam kapan saja. Sebuah kapal laut raksasa “Titanic” yang diyakini pembuatnya tidak akan pernah tenggelam kapan saja. Sebuah kapal mengalami kondisi yang sangat mengenaskan. Air laut menelannya di luar kemampuan segala upaya yang telah dilakukan para awak untuk menyelamatkannya. Tidak hanya kendaraan di lautan, di udara pun Allah yang menundukkannya. Kecanggihan tehnologi yang dicapai manusia modern dalam pembuatan kapal udara memang telah memperlihatkan bukti yang sangat mengagumkan. Tetapi itu semua harus tetap diyakini sebagai bukti kekuasaan Allah, bukan semata kehebatan manusia. Mengapa? Sebab Allah-lah yang menundukkan kendaraan udara tersebut. Dan banyak bukti dan kendaraan udara yang jatuh karena kehendak Allah. Padahal menurut perhitungan manusia ia sudah diupayakan secara maksimal untuk tidak jatuh.
  • Sungai-sungai juga Allah tundukkan: “dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai “. Dari bumi dan batu-batu bila Allah berkehendak memancarlah air sungai.”diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya” (QS. 2:74). Perhatikan bagaimana Allah menceritakan kenyataan ini dengan sangat gambing. Manusia dengan kehebatan ilmunya belum pernah mampu menciptakan air. Apalagi memancarkan air sungai yang demikian banyaknya dari batu-batu, yang secara akal tidak mungkin ada air di dalamnya. Dengan air sungai tersebut manusia bisa memberi minum binatang ternak yang mereka pelihara, bisa menyiram pohon yang mereka tanam dan seterusnya yang pada intinya dengan air tersebut kehidupan manusia bisa berlanjut.”Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” (QS. 21:30).
  • Allah juga menundukkan matahari dan bulan:”dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya)”. Matahari dan bulan tersebut berputar pada porosnya. Seperti juga galaksi yang lain yang jumlahnya jutaan bahkan milyaran. Semua itu Allah ciptakan untuk mendukung kehidupan di bumi. Jika semuanya itu tidak Allah tundukkan niscayakehidupan di bumi sudah berakhir, bahkan mungkin tidakada sama sekali. Berbagai penemu ilmu pengetahuan membuktikan bahwa perjalan matahari dna bulan benar-benar telah tertata rapi dengan jarak yang sangat tepat. Bila terjadi pergeseran barang 1cm, itu akan menyebabkan kehancuran kehidupan di bumi. Allah tidak pernah main-main dalam menegakkan kehidupan di alam ini. Hanya sayangnya manusia selalu melalaikan hakikat ini,”Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. 36:40)
  • Allah juga tundukkan siang dan malam: “dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. Dengan adanya siang dan malam manusia bisa menjalani hidupnya secara simbang. Seandainya hidup ini siang saja, atau malam saja, bisa dipastikan manusia akan stress. Imam Syaf’i menyebutkan dalam syairnya: “andaikan matahari berhenti di ufuk timur selamanya, niscaya manusia akan bosan (stress) dimanapun berada”. Pernyataan Imam Syafi’i menggambarkan tabiat manusia. Bahwa manusia selalu menginginkan perubahan. Ia tidak bisa hidup di satu titik. Ia membutuhkan siang untuk mencari nafkah hidupnya, sebagaimana juga membutuhkan malam untuk istirahat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.