Kalimat berikutnya berbunyi : Wasaturadduuna ilaa ‘aalimil ghaib wasy syahadah, Ibn Abbas mengatakan, al ghaib yang dirahasiakan, dikerjakan secara sembunyi-sembunyi, dan asy syahadah yang dikerjakan secara terang-terangan. Imam Ar Razi berkata: al ghaib bisa dimaksudkan segala yang terdetik dalam hati berupa niat baik atau buruk, dan asy syahadah adalah segala perbuatan yang diragakan (lihat Imam Ar Razi, mafaatihul ghaib, vol. 16 h.194). dari sini nampak bahwa setiap perbuatan harus senantiasa serasi antara niat dan tingkah laku. Hilangnya keserasian ini akan melahirkan ketimpangan, kalau tidak dikatakan sia-sia sama sekali. Bila direnungkan secara mendalam panduan utuh antara fasayaraallahu amalakum, wasaturadduuna ilaa ‘aalimilghaibi wasy syahadah maka akan tergambar bahwa niat sebagai pengantar setiap perbuatan harus karena Allah dan untuk semata mencapai ridlaNya, karena Dialah yang akan menilainya.

Dengan demikian nampak bahwa setiap perbuatan terdiri dari dua unsur: niat yang mengantarkan dan perbuatan yang diragakan. Niat saja tidak cukup melainkan harus tercermin dalam perbuatan. Perbuatan pun harus sesuai dengan petunjukNya bukan karangan akal sendiri. Perbuatan apa pun yang tidak sesuai dengan petunjukNya (baca: kemaksiatan) sekalipun dihantarkan dengan niat yang ikhlash juga tidak akan diterima di sisiNya. Sebaliknya perbuatan yang benar-benar syariah, tapi niat yang menghantarkannya tidak ikhlash juga akan menggiring pada kecelakaan. Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyebutkan tiga orang yang bersama-sama melakukan perbuatan baik secara dzahir,tetepi karena niatnya salah akhirnya ketiga-tiganya sama-sama masuk neraka: pertama seorang berperang di jalan Allah dengan niat supaya dibilang pemberani, kedua, seorang mengajarkan Al Qur’an supaya dibilang alim, ketiga, seorang menginfakkan hartanya supaya dibilang dermawan (lihat Sahih Muslim, no. 1514). Ustadz Sayid Quthub mengatakan: Islam adalah manhaj yang realistis,gelora niat dan semangat tidak akan berdampak apa-apa sepanjang tidak diterjemahkan dalam gerakan nyata,memang diakui bahwa niat yang baik mempunyai posisi tertentu dalam Islam, tetapi niat saja belum cukup untuk membangun pahala, sebab ia akan dihitung setelah tercermin dalam bentuk perbuatan, begiti perbuatan muncul di sini peranan niat menentukan kwalitasnya, inilah makna hadits: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantujng niatnya” perhatikan dalam hadits ini perbuatan digabung dengan niat bukan niat saja. (Sayid Quthub, fii dzilail Qur’an, (Bairut, Darusy syuruq, 1985),vol. 3, h.1709).

Keikhlashan (sihhatun niyah) dan benarnya perbuatan (sihhatul amal) adalah inti utama yang sangat menentukan. Keduanya adalah cerminan dari seluruh rangkaian kata dan kalimat dalam ayat di atas. Ibarat dua sayap bagi seekor burung ikhlash dan kebenaran amal akan mengantarkan pelakunya kepada tujuan yang didambakan. Sudah barang tentu seekor burung tidak akan bisa terbang hanya dengan satu sayap. Perhatikan bagaimana Allah mengencam seorang yang tidak shalat, padahal shalat adalah ibadah yang sangat mulia dan utama dalam Islam hanya karena niatnya salah, Allah berfirman: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan)barang berguna (QS. 107: 4-7).

Oleh. Dr. Amir Faishol Fath, MA

Leave a Reply

Your email address will not be published.