Pada kalimat berikutnya Allah berfirman: fasayarallahu ‘amalakum, tidak ada sekecil apapun dari yang kita lakukan kecuali akan mendapatkan balasannya. Tidak ada kata yang terucap dari lidah, kecuali terekam secara lengkap: mayalfidzu minqaulin illa ladaihi raqibun atiid (QS.). Lebih kecil dari atom pun amal kita akan tetepmenjadi kredit poin dari perjalanan hidup kita. Bila perbuatan itu baik, simpanan amal baik kita di akhirat akan bertambah, dan bila perbuatan kita jelek, simpanan amal kita kan jelek. Famayya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah, wamayya’mal mistqaala dzarratin syarrayyarah. Jadi pribadi kita hanya ditentukan oleh kedua pilihan ini: Bila kita salah memilih kita akan sengsara selama-lamanya. Tapi bila pilihan kita benar, kita akan selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Itulah makna do’a yang selalu kita panjatkan: “rabbana aatina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannaar”(QS. 2:201).

Dengan menyadari hakikat ini, bila kita melakukan kebaikan, kita tidak akan risau,sekalipun tidak ada orang yang memuji kita. Bagi kita berbuat baik adalah cicilan membangun kebahagiaan akhirat. Apapun bentuk kebaikan tersebut. Kecil maupun besar, nampak hina di mata manusia atau tidak, dalam kesunyian maupun di tengah keramaian, menghasilkan uang atau tidak. Pribadi kita slalu nampak istiqamah, tidak beerwarna-warni. Popularitas bukan ukuran, karena hakikat fasayarallah amalakum telah terpatri sedemikian kuat dalam keyakinan kita. Bila jalan ini yang kita pilih, kita kan slalu produktif. Simpanan pahala kita akan selalu bertambah. Dan hidup kita akan selalu tenang, karena tabiat pahala tidak akan pernah mengantarkan kita kecuali kepada ketenangan hidup. Dari sisi ini nampak apa yang dikatakan Imam Ar Razi. Bahwa ayat ini merupakan taghriib (pendorong) bagi orang-orang yang taat kepada Allah untuk senantiasa beramal dan terus beramal .

Namun bila kita melakukan keburukan, Allah juga akan menyaksikannya fasayarallahu amalakum. Perlu digaris bawahi di sini bahwa keburukan dalam terminologi Islam tidak hanya identik dengan perzinaan, mabuk-mabukkan, pencurian, korupsi, dan lain sebaginya. Melainkan wudhu’ kita yang tidak sempurna, shalat yang asal-asalan itu juga kemaksiatan. Di hari kiamat kaki yang tidak dibasuh secara lengkap ketika berwudhu’ akan masuk neraka (HR Bukhari, no. 165). Shalat yang tidak sempurna bacaan dan gerakannya, tidak dianggap shalat. Rasulullah SAW.  pernah menyuruh sahabatnya untuk shalat lagi karena sebagian gerakannya tidak sempurna (HR. Bukhari, no. 757). Dalam berdakwahpun jika kita tidak melakukannya dengan penuh kesungguhan (baca: asal-asalan) itu juga kemaksiatan. Mengapa kita berbuat untuk Allah asal-asalan. Perhatikan, Allah senantiasa mengingatkan dalam Al Qur’an bahwa tidak ada di bumi dan langit dari ciptaanNya yang main-main. Semua Allah tegakkan dengan penuh kesempurnaan: Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu  cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah(QS. 67:3-4). Dari sini nampak bahwa ayat ini mengandung tarhiib (ancaman) bagi orang-orang yang tidak mentaati Allah sebagaimana mestinya.Az Zamakhsyari berkata: ayat ini merupakan ancaman sekaligus peringatan akan akibat yang harus mereka jalani jika terus menerus bergelimang dalam kemaksiatan (lihat Az Zamakhsyari, al kasysyaaf (Mansyratul balaghah) vol. 2, h.308).

Lalu mengapa Allah menambahkan setelahnya kalimat Warasulu wal mu’minun? Bukankah sudah cukup dengan kesaksian Allah? Imam Ar Razi mengutip jawaban Abu Muslim bahwa Rasulullah dan orang-orang mukmin adalah saksi yang Allah pilih. Wakadzalika jaalnakum ummatan wasathan (QS. 2:143).

Dalam ayat lain: fakaifa idzaa ji’na min kulli ummatin bisyahiidin wji’na bika alaa haaulaai syahiida (QS. 4:41) (lihat. Imam Ar Razi, mafatiihul ghaib: vol. 16, h.194). dalam riwayat Anas RA.  Diceritakan: Pernah suatu hari sebuah jenazah dibawa melewati sekelompok para sahabat Rasulullah SAW, mereka itu menyebutkan kebaikan si mayyit, Nabi menjawab: wajib. Setelah itu mayyit yang lain lagi dibawa, para sahabat yang melihatnya tidak memujinya, bahkan penilaiannya tidak baik, Nabi menjawab: wajib. Umar lalu bertanya: Apa maksud dari pernyataan wajib yang diucapkan Nabi? Nabi menjawab: Mayyit pertama yang kamu sebut kebaikannya wajib masuk surga, sementara mayyit kedua yang kamu sebut keburukannya wajib masuk neraka. Kamu semua adalah saksi Allah dibumi (HR. Bukhari, no, 181, Muslim, no. 949).

Oleh. Dr. Amir Faishol Fath, MA

Leave a Reply

Your email address will not be published.