Kalimat wa quli’malu adalah perintah, yang berarti keharusan untuk beramal. Akidah tanpa amal akan menjadi kering, karena amal bagi akidah ibarat air bagi sebuah pohon. Pernyataan para ulama bahwa iman naik turun (yaziidu wayanqus) maksudnya ia naik dengan amal shaleh dan turun dengan kemaksiatan. Dalam diri seseorang cerminan akidahnya adalah amal yang ia lakukan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang selalu menggabung antara iman dan amal: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dala kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”  (QS. 103:2-3, lihat juga QS. 2:62, 5:69).

Dalam Surat Al Mu’minun, Allah menyebutkan tanda-tanda seorang yang beriman dengan amalnya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, menunaikan zakat, menjaga kemaluannya, kecual iterhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, serta memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang mewarisi”  (QS. 23:1-10).

Rasulullah SAW. Seringkali menyebutkan tanda-tanda keimanan dengan amal: Anas RA. Meriwayatkan Rasulullah bersabda: Seorang tidak disebut beriman  sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari, no.13). Imam Bukhari dalam buku Shahihnya menulis judul khusus: Bab man qaala innal iman huwal amal (orang yang mengatakan iman adalah amal), di dalamnya ia menyebutkan ayat: (QS. 43:72), dan hadits riwayat Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah SAW. Pernah ditanya, perbuatan apa yang paling utama: Beliau berkata: Iman kepada Allah dan RasulNya, kemudian apa? Haji mabrur (HR. Bukhari, no.26).

Ketika menjelaskan mengenai bagaimana seharusnya seorang muslim, Rasulullah tidak hanya menggambarkan hal-hal yang berkenaan dengan ibadah mahdlah (ritual), melainkan banyak hal yang berkaitan langsung dengan amal sosial: Ibn Amr meriwayatkan Rasulullah SAW. Bersabda: Seorang muslim adalah yang tidak pernah menyakiti orang muslim lainnya dengan lidah dan tangannya, dan seorang muhajir adalah yang hijrah dari larangan Allah SWT. (HR Bukhari,no. 10).Dalam sebuah peristiwa diceritakan bahwa seorang bertanya kepada Rasulullah SAW. mengenai apa yang terbaik dalam ber-Islam? Rasulullah menjawab: Kau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang lain, baik kamu kenal maupun tidak (HR Bukhari, no. 12).

Oleh. Dr. Amir Faishol Fath, MA

Leave a Reply

Your email address will not be published.