BERTAKWA KARENA AKU BUTUH ALLAH

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Tidak akan pernah habis kata takwa dibahas. Sebab semua inti pesan Al-Qur’an adalah mengajak agar kita bertakwa. Seorang mungkin bertanya mengapa setiap khatib selalu mengajak bertakwa?  Tentu pertanyaan ini wajar. Sebab,  dahulu pernah juga Umar bin Khaththab seorang sahabat nabi saw.  bertanya mengenai hal sama. Apa itu takwa? Pertanyaan itu tak kunjung menemukan jawaban. Sampai kemudian,  ia bertemu dengan sahabat yang lain bernama Ubay bin Ka’ab ra.

Ubay seorang sahabat yang alim. Ia rujukan dalam ilmu Al-Qur’an. Pernah suatu hari surah Al-Bayyinah  turun kepada Rasulullah saw. Malaikat Jibril a.s Yang membawanya menyampaikan pesan dari Allah swt, agar surah tersebut dibacakan kepada Ubay. Tidak lama setelah itu, Rasulullah SAW menyampaikan kepada Ubay.  

“Wahai Ubay, aku diperintahkan Allah swt. agar membacakan surah ini kepadamu” kata Nabi.

“Surah apa itu wahai Rasul ? “ Tanya Ubay.

“Surah Al bayyinah “  jawab Nabi.

“Apakah namaku disebut wahai Rasul? “ Ubay kembali bertanya.

“Ya, namamu disebut  Allah swt. “ jawab Nabi.

Seketilka Ubay menangis terharu,  dan senang karena namanya dimuliyakan  Allah swt. Inilah kedudukan Ubay bin Ka’ab ra. Wajar kalau Umar bertanya kepadanya. Kedudukan Ubay yang tinggi tidak hanya secara keilmuan.  Tetapi juga di sisi Allah swt,  telah menempatkannya sebagai rujukan ilmu Al-Qur’an pada masa itu dan sepanjang masa. Kita lanjutkan kisah pertemuan Umar dan Ubay :

“ Wahai Ubay, apa itu takwa ? “ kata Umar

“ Apakah anda pernah melewati jalan yang penuh dengan duri wahai Umar ? Ubay balik bertanya.

“ Ya, pernah “ Jawab Umar.

“ Apa yang anda lakukan pada waktu itu ? “ kata Ubay.

“ Aku berhati-hati” Jawab Umar.

“ Itulah takwa wahai Umar “ jawab Ubay.

Menarik kita menyimak dialog ini. Ubay tidak langsung menjelaskan makna bahasa “takwa”. Melainkan,  dengan menggunakan perumpamaan. Bahwa, orang yang ingin paham apa itu takwa cukuplah anda posisikan diri seakan di atas sebuah jalan yang penuh duri.

Bayangkan, apa yang anda lakukan pada saat itu?. Pasti anda akan hati-hati jangan sampai duri itu menusuk tubuh anda. Pasti, anda akan menghindar dari tusukan duri. Pasti anda akan jinjitkan kaki jangan sampai duri itu menusuk kaki anda. Lalu yang menarik adalah jawaban Ubay, bahwa itulah hakikat takwa.

Subhanallah, sangat dalam makna yang dijelaskan Ubay. Bahwa,  takwa bukan sekedar kata-kata. Takwa adalah sikap. Takwa bukan sekedar pengakuan, melainkan sebuah tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang mengaku beriman tetapi tidak bertakwa. Karenanya Allah swt. memanggil yang beriman agar bertakwa.

 “ Yaa ayyuhalladziina aamanuu iitaqullah” (wahai orang yang beriman bertakwalah kepada Allah).  Artinya tidak cukup anda hanya mengaku beriman lalu dalam perbuatan anda tidak ada ketaatan kepada-Nya. Dari penjelasan Ubay, kita mengerti bahwa takwa adalah totalitas kehati-hati-hatian seorang hamba kepada Allah swt. jangan sampai berbuat dosa.  Allah tidak suka hamba-Nya melakukan dosa. Sebab dosa adalah bahan bakar neraka.

Siapapun yang cendrung berbuat dosa ia telah menyiapkan dirinya untuk masuk neraka. Takwa artinya tindakan nyata mentaati Allah swt, supaya tidak masuk neraka. Memang tabi’at manusia tidak bisa terlepas dari salah dan dosa.

 Rasulullah saw bersabda : “kullu banii aadam khaththaa’, wa kahirul khaththaaiin attawwaabuun” yang artinya : setiap anak Adam pasti akan terjatuh dalam dosa. Tetapi sebaik-baik orang yang jatuh dalam dosa ia segera bertaubat kepada Allah swt.

 Ingat, bahwa kita mentaati Allah bukan karena Allah butuh kita. Tetapi kitalah yang butuh dengan  Allah swt. Kita butuh agar segala urusan kita dimudahkan, kita butuh agar badan kita disehatakan,  kita butuh agar anak kita diluluskan dalam ujian. Ini semua karena ditentukan oleh Allah. Tidak ada kekuatan makhluk yang bisa memberikan jaminan atas semua itu.

Saudara, jangan sok merasa hebat karena anda sedang berkuasa, sedang kaya, sedang sukses karirnya, lalu seenak nafsu anda berbuat dosa. Ingat , semua itu dari Allah swt. Tidak ada yang abadi dari apa yang anda miliki. Semua akan berakhir.

Tadi pagi, kita mendengar artis fulan yang sedang naik daun tiba-tiba meninggal dunia. Kemarin konglomereta fulan meningak dunia. Sepekan yang lalu pengusaha fulan meninggal dunia. Sebelumnya raja fulan meninggal dunia. Apa arti semua itu, bahwa kita butuh Allah swt. Inilah kesadaran yang harus selalu kita tanamkan dalam hati. Inilah inti makna takwa yang selalu dipesankan khatib setiap hari Jum’at. 

Takwa adalah kejujuran ikut Allah swt. bukan basa-basi atau pura-pura atau pencitraan. Takwa adalah  kesungguhan menjauhi dosa seperti anda menghindari duri. Dari pesan di atas, kita paham bahwa Ubay r.a. mengumpamakan dosa bagaikan duri. Tentu tidak ada seorangpun di antara yang mau mata ini tertusuk duri, perut ini kemasukan duri, kaki ini terkenak duri. Anda pasti sepakat dengan pernyataan ini.

Maka, takwa adalah  kehati-hatian kita jangan sampai mata ini melihat yang Allah swt. haramkan seperti kita tidak suka duri menusuk mata kita. Takwa adalah kehati-hatian jangan sampai harta masuk ke perut kita, perut istri kita atau perut anak kita seperti kita tidak suka duri masuk ke perut tersebut. Takwa adalah kehati-hatian jangan sampai kaki kita melangkah ke tempat-tempat yang Allah haramkan seperti kita tidak suka duri menusuk kaki ini.

Kenyataanya, memang masih banyak dari kita yang sudah mengaku beriman belum bertakwa. Dalam keseharian kita masih sering mata ini melihat yang Allah haramkan, minimal sia-sia. Masih banyak dari saudara kita yang beriman,  tidak merasa malu makan harta hasil koruspsi.

Boleh jadi,  ia berkata “aku tidak makan harta hasil korupsi itu, tetapi hanya aku pakai buat kampanye”  Sama saja, itu semua haram.  Apa yang anda pakai,  sama dengan apa yang makan. Tidak ada bedanya. Semua adalah dosa, dan semua pasti akan dihisab oleh Allah swt. Dengarkan Allah berfirman : “inna ilainaa iyabahun tsumma inna ‘alaina hisaabuhum” (Sesunnguhnya mereka pasti akan kembali kepadaKu dan Aku pasti akan menghisab mereka).

PEMBERDAYAAN diri untuk ALLAH, MENGAPA? bagian 2

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

bagian 2 habis

Dan Kami jadikan malammu sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS. 78:10-11)

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamumencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (QS. 28:73)

Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerinthkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (QS.  7:54)

Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 31:29)

Tugas Utama Manusia: Memberdayakan Diri Untuk Allah

                Kata rizqan lakum (sebagai rezkiuntukmu) dan sakhkhara lakum (menundukkan untukmu) seperti pada ayat diatas telah mengesankan beberapa makna:

  1. Bahwa manusia adalah makhluk yang sangat Allah muliakan. Artinya ketika Allah menciptakan matahari, menurunkan hujan, menyediakan laut, sungai dan seterusnya itu semua tidak lain hanyalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Karenanya yang Allah panggil dalam Al Qur’an, untuk menjalankan tugas-tugas di bumi adalah manusia. Para Nabi Allah utus dari golongan manusia. Seruan yaayyuhannas atau yaayyuhalladzinan amanuu yang demikian banyak dalam Al Qur’an itu maksudnya manusia. Termasuk dhamir “kum” dalam ayat di atas arahnya kepada manusia. Dari segi bentuk fisik pun penciptaan manusia juga Allah pilihkan yang terbaik “ahsanu taqwiim”. Semua ini mengidentifikasikan pentingnya posisi manusia di atas bumi. Maka sungguh celaka manusia yang mengabaikan kemuliaan posisi ini lalu memilih posisi yang sangat rendah “asfala saafiliin”. Tunduk semata pada tutunan hawa nafsunya sehingga ia terjerembab dalam gaya hidup seperti binatang atau lebih rendah lagi “ulaaika kal an’aam balhum adhallu waulaaika humul ghaafiluun”.
  • Bahwa amanah penciptaan langit dan bumi diserahkan kepada manusia. Terserah untuk ia manfaatkan. Sebagai sarana pengabdian kepada Allah atau kepada syetan? Manusia diberi dua pilihan: jalan syukur atau kufur. Bila jalan syukur ia tempuh ia akan menjadi selamat di dunia dan akhirat. Sebaliknya bila jalan kufur yang dipilih ia akan menuai kecelakaan. Dalam surat Al Jatsiyah Allah menegaskan:”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.(QS. 45:13)

Perhatikan bahwa proses pemberdayaan ciptaan Allah ini sebagai rahmah (kasih sayang Allah) yang tak terhingga kepada manusia. Untuk apa? Supaya manusia beriman dan tunduk hanya kepadaNya. Dalam rangka ini manusia harus menggunakan akalnya. Itulah makna dari ayat: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.

        Surat Al Hajj lebih tegas lagi menggambarkan eratnya pemberdayaan ciptaan alam dengan keharusan sikap syukur, Allah berfirman:”Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS. 22:36). Mensyukuri nikmat yang sedemikian agungnya adalah bagian dari tugas utama manusia.

        Syukur artinya merasakan agungnya nikmat Allah dan menampakannya sebagai amanah yang harus dipikul sesuai dengan kehendak pemberinya. Kebalikan syukur adalah kufur. Kufur artinya melupakan nikmat yang diterimanya dan berusaha untuk mengingkarinya (lihat Ar Raghib, hal.461). perhatikan ayat “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) “kafartum”, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14:7).

  • Allah selalu mengajak manusia dengan pendekatan yang snagat mendidik dan persuasif. Kepada rasulNya pun mengajarkan “lasta alaihim bimusaithir”. Tidak ada unsur paksaan, melainkan dengan mengingatkan akan keagungan nikmat yang diberikan kepadanya. Itulah cerminan dari makna rizqan lakum dan sakhkhara lakum. Seakan ditampakkan didepan matanya bukti-bukti yang sangat dekat dengan dirinya dan begitu akurat, sehingga akalnya tidak bisa membantah. Karenanya pada ayat selanjutnya Allah berfirman: Dan jika kamu menghitung nikmat  Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Ungkap seperti ini terus diulang-ulang dengan gaya yang sangat indah,variatif dan menggelitik. Siapapun yang membaca Al Qur’an dengan mata hatinya akan tunduk bersujud, mempersaksikan dirinya sebagai hambaNya dan akan berakata seperti yang direkam dalam ayat:”Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:191) “Maha suci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya (QS. 43:13)
  • Bahwa setelah nikmat-nikmat  yang terjangkau jumlahnya itu, sekalipun dihitung dengan kalkukator yang paling canggih, ada tugas yang harus dipikul oleh manusia. Bahwa manusia kelak di Hari Kiamat, akan mempertanggung-jawaban sekecil apapun dari nikmat-nikmat tersebut. Kepada apa saja nikmat-nikmat itu digunakan? Karenanya selalu diingatkan dengan kata rizqan lakum dan sakhkhara. Supaya tersadar bahwa semua itu diberikan bukan sekedar pemberian tanpa makna. Bahwa semua itu diterima dengan segala konsekuensi yang harus direalisasikan. Bila proses realisasinya salah, ia akan menuai siksaan. Dan bila realisasinya sejalan dengan aturan Sang Pemberi ia akan menuai pahala yang setimpal. Dengan kata lain, setelah nikmat-nikmat itu diberdayakan untuk manusia secara maksimal, maka tidak ada pilihan bagi manusia kecuali memberdayakan dirinya untuk Allah semata. Sekecil apapun yang ia lakukan hendaknya selalu dalam rangka menegakkan ajaranNya, dalam diri, rumah, masyarakat dan negaranya.

                Hanya saja, sangat sedikit manusia yang menyadari hakikat “waqalilum min ibadiyasy syakuur”. Mereka lebih suka mengutamakan kepentingan dunia daripada akhirat: “bal tu’tsiruunal hayatad dunya”. Karenanya itulah pada ayat di atas Allah berfirman: Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

 Wallahu alam bishshawwab.

                Bila memillih yang kedua, berarti ia telah menentukan pilihan yang paling tepat untuk dirinya dan untuk keseimbangan hidup di alam.

                Benar, Allah tundukkan semua yang di langit dan di bumi untuk manusia sebagai rahmat. Mengapa sebagai rahmat? Sebab ternyata sekalipun telah Allah tundukkan semuanya itu masih banyak manusia yang tidak tunduk kepadaNya. Kendati demikian Allah pernah kapok, Ia tetap melakukan itu. Dan dengan melihat kesungguhan Allah dalam memberdayakan segala sesuatu untuk manusia, manusia akan bahagia.

Wallahu ‘alam bishshawwab

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

PEMBERDAYAAN diri untuk ALLAH, MENGAPA? bagian 1

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Bagian 1 dari 2

                Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat  zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. 14:32-34)

Makna Taskhir (Pemberdayaan)

                Dalam ayat di atas kita temukan kata sakhkhara berulang-ulang. Dari kata sakhkhara kata taskhir diambil. Imam Al Asfahani menyebutkan makna taskhir adalah “pemberdayaan sesuatu untuk tujuan tertentu secara paksa (tanpa alternatif). (Lihat Arraghib, Mufradat alfadzil Qur’an, (Damaskus, Darul Qalam 1992) h. 402). Dikatakan secara paksa (qahran) karena bagi sesuatu yang ditundukkan as sukhriy tidak ada pilihan kecuali mengikuti kehendak dan keinginan yang memberdayakannya. Dengan mengikuti terjemahnya Al Qur’an versi Depag kata sakhkhara diarikan menundukkan. Dalam Al Qur’an setiap kali disebut kata sakhkhara, hampir selalu dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa segala ciptaan Allah di langit dan dibumi ditundukkan untuk mengikuti system “sunnatullah” yang telah  Allah letakkan.

                Kerapian alam semesta yang demikian mengagumkan ini, menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam ini telah Allah tundukkan: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang” (QS: 67:3) Allah mengajak dengan ayat ini agar manusia benar-benar menyaksikan dengan mata kepalanya betapa ciptaan Allah tidak ada yang  main-main. Perhatikan dan perhatikan sekali lagi jika masih ragu. Kau tidak akan pernah penemukan kerancuan dan ketidak seimbangan. Kalau masih ada sebagian sisi yang belum kamu lihat, coba lihat lagi dan sekali lagi. Sungguh tidak akan pernah ada yang tidak seimbang.

                Gaya ungkap yang sangat menantang dan meyakinkan tersebut, setidaknya mengindikasikan gambaran taskhir Allah yang sangat sempurna terhadap alam semesta dan segala isinya. Pun setidaknya ini membuat manusia semakin terhentak akan kelemahan dirinya. Apalagi ilmu pengetahuan yang dicapainya kian menampakkan kenyataan dari sebagian sisi yang sangat luar biasa itu. Tidak ada pilihan sebenarnya bagi manusia kecuali  harus tunduk secara total kepada Allah sebagai hambaNya. Allah berulang-ulang menegaskan hakikat taskhir ini dalam Al Qur’an,pada hakikat untuk menguatkan makna kehambaan ini. Bahwa manusia diciptakan bukan untuk menandingi kemahadahsyatan Allah SWT,  sebab ia dengan segala yang terdahsyat dari kemampuannya tidak lebih dari hanya karuniaNya.

                Dengan menyaksikan keagungan ciptaan ini, hati manusia ssecara perlahan akan terbuka,untuk kelak bisa menerima cahaya keimanan secara sempurna. Dengan kata lain, taskhir adalah sunnatullah dalam segala wujud. Tanpa taskhir kehidupan di alam ini dipastikan telah berakhir. Tak terkecuali manusia, ia harus mengikuti proses taskhir ini secara seksama. Dan tidak ada aturan taskhir yang paling sempurna dan menentukan bagi keselamatan hidup manusia kecuali aturan Allah SWT. Sebab Dialah Sang Pencipta, maka Dialah yang paling berhak menentukan aturan sesuai dengan tujuan yang diinginkanNya.

Beberapa Bukti Keharusan “Taskhir”

                Ada beberapa bukti dalam ayat di atas bahwa Allah memberdayakan ciptaannya di langit dan di bumi untuk kebutuhan manusia:

  1. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu”. Disini di tegaskan bahwa langit yang demikian agung ini, ditegakkan tanpa tiang, bumi dengan segala isinya, pun hujan yang sedemikian sistematis Allah turunkan, semuanya tidak lain sebagai rezki bagi manusia. Kata rezki sering kali dipahami sebatas hasil usaha yang dilakukan seseorang. Ayat di atas menggambarkan bahwa rezki meliputi setiap nikmat yang kita terima dari Allah SWT.  penciptaan langit, bumi dan semua galaksi, termasuk perputarannya secara sistematis, yang menyebabkan turunnya hujan dan tumbuhnya pepohonan, adalah rezki yang sangat agung tapi sering manusia lalaikan. Diantara rezki yang paling nampak dimana manusia tidak akan pernah mampu membikinnya dengan alat teknologi yang paling canggih sekalipun, adalah buah-buahan “tsamaraat”. Buah yang dihasilkan dari pepohonan ini hanya Allah-lah yang mengatur prosesnya secara alamiyah. Tidak ada seorang pun yang mampu bisa mendatangkannya tanpa proses alamiyah tersebut.
  • Diantara yang Allah tundukkan adalah kendaraan manusia di lautan: “Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya”, benar manusia dengan kemampuannya bisa membikin bahtera. Tetapi bahtera tersebut akan tenggelam kapan saja. Sebuah kapal laut raksasa “Titanic” yang diyakini pembuatnya tidak akan pernah tenggelam kapan saja. Sebuah kapal mengalami kondisi yang sangat mengenaskan. Air laut menelannya di luar kemampuan segala upaya yang telah dilakukan para awak untuk menyelamatkannya. Tidak hanya kendaraan di lautan, di udara pun Allah yang menundukkannya. Kecanggihan tehnologi yang dicapai manusia modern dalam pembuatan kapal udara memang telah memperlihatkan bukti yang sangat mengagumkan. Tetapi itu semua harus tetap diyakini sebagai bukti kekuasaan Allah, bukan semata kehebatan manusia. Mengapa? Sebab Allah-lah yang menundukkan kendaraan udara tersebut. Dan banyak bukti dan kendaraan udara yang jatuh karena kehendak Allah. Padahal menurut perhitungan manusia ia sudah diupayakan secara maksimal untuk tidak jatuh.
  • Sungai-sungai juga Allah tundukkan: “dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai “. Dari bumi dan batu-batu bila Allah berkehendak memancarlah air sungai.”diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya” (QS. 2:74). Perhatikan bagaimana Allah menceritakan kenyataan ini dengan sangat gambing. Manusia dengan kehebatan ilmunya belum pernah mampu menciptakan air. Apalagi memancarkan air sungai yang demikian banyaknya dari batu-batu, yang secara akal tidak mungkin ada air di dalamnya. Dengan air sungai tersebut manusia bisa memberi minum binatang ternak yang mereka pelihara, bisa menyiram pohon yang mereka tanam dan seterusnya yang pada intinya dengan air tersebut kehidupan manusia bisa berlanjut.”Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” (QS. 21:30).
  • Allah juga menundukkan matahari dan bulan:”dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya)”. Matahari dan bulan tersebut berputar pada porosnya. Seperti juga galaksi yang lain yang jumlahnya jutaan bahkan milyaran. Semua itu Allah ciptakan untuk mendukung kehidupan di bumi. Jika semuanya itu tidak Allah tundukkan niscayakehidupan di bumi sudah berakhir, bahkan mungkin tidakada sama sekali. Berbagai penemu ilmu pengetahuan membuktikan bahwa perjalan matahari dna bulan benar-benar telah tertata rapi dengan jarak yang sangat tepat. Bila terjadi pergeseran barang 1cm, itu akan menyebabkan kehancuran kehidupan di bumi. Allah tidak pernah main-main dalam menegakkan kehidupan di alam ini. Hanya sayangnya manusia selalu melalaikan hakikat ini,”Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. 36:40)
  • Allah juga tundukkan siang dan malam: “dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. Dengan adanya siang dan malam manusia bisa menjalani hidupnya secara simbang. Seandainya hidup ini siang saja, atau malam saja, bisa dipastikan manusia akan stress. Imam Syaf’i menyebutkan dalam syairnya: “andaikan matahari berhenti di ufuk timur selamanya, niscaya manusia akan bosan (stress) dimanapun berada”. Pernyataan Imam Syafi’i menggambarkan tabiat manusia. Bahwa manusia selalu menginginkan perubahan. Ia tidak bisa hidup di satu titik. Ia membutuhkan siang untuk mencari nafkah hidupnya, sebagaimana juga membutuhkan malam untuk istirahat.

Membangun Hidup Hemat Pada Anak

                Sering kali kita mengartikan cinta dan kasih sayang kepada anak dengan memberikan apa yang disenanginya. Bahkan demi apa yang diinginkan anak, banyak orang tua yang sampai menjual tanah ataupun rumah. Jika memang benar-benar dibutuhkan untuk biaya sekolah atau pendidikan sebagai bekal masa depannya, hal ini masih wajar-wajar saja. Sayangnya tidak sedikit dari orang tua yang hanya ingin memanjakan anaknya dengan PS (video game), motor atau mobil, dengan kondisi yang pas-pasan mereka harus dan terpaksa menjual barang yang paling berharga dalam hidupnya. Mereka akan melakukan apa saja yang bodoh jika apa yang diinginkan tidak tercapai. Anak yang biasa dimanjakan dengan materi ia tidak akan pernah faham apa sebenarnya uang itu. Mereka tidak pernah mau tahu bagaimana capeknya mencari uang dan bagaimana cara menggunakannya dengan baik.

                Ada kesalahan besar bagi orang tua dalam mendidik anak. Dalam acara OPRAH yang ditayangkan metro TV dengan tema True Love for children, beberapa orang tua mengeluhkan sikap anaknya yang setiap apa yang ia inginkan harus diwujudkan pada saat itu juga. Hal ini bermula karena sejak kecil apa saja yang diinginkannya langsung diberikan tanpa melihat harga dan pentingnya barang. Ada lagi seorang ibu yang menceritakan karena besar rasa cinta dan sayangnya kepada putrinya, ia memakaikan giwang bertahtakan berlian dengan harga $70.000 (hampir 1 milyar rupiah). Hal ini malah menanamkan jiwa material dan akan memberikan dampak yang sangat buruk terhadap hubungan cinta antara anak dan orang tua dan anak. Mereka akan memahami jika tidak diberikan apa yang diinginkan, orang tuanya sudah tidak sayang lagi. Pemahaman ini akan membuat mereka dapat melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang ia inginkan.

                Pemahaman anak tentang uang tentunya berbeda dari waktu ke waktu. Dari usia 0-2 tahun si kecil hanya tahu bahwa uang itu hanya coin mainan menarik, kadang ia lempar, kadang pula dimasukkan kedalam mulutnya. Setelah 2 tahun si kecil mulai tahu bahwa itu adalah sebuah hadiah kecil yang diberikan kakek, nenek, om dan tantenya. Semakin hari anak akan tahu kalau uang bisa mendapatkan permen dan mainan. Kemudian lama-lama ia mengerti ternyata uang adalah alat untuk membeli kebutuhan sekolah, makan, minum dan pakaian. Pastinya ia akan faham ternyata dengan uang orang bisa memiliki apa saja yang ia mau. Bersamaan dengan perkembangan anak setiap detiknya, maka di setiap detik itu pula orang tua harus bisa mendidik dan memberikan bimbingan agar anak tidak salah memahami hakikat uang dan penggunaannya.

Arti uang bagi anak

Saat ini anak-anak kita terancam kecanggihan globalisasi dan di serang berbagai media iklan, khususnya iklan-iklan bisnis perdagangan. Mulai dari iklan mainan TOYS yang setiap hari semakin canggih dan modern, iklan minuman dan makanan yang menggiurkan lidah dan lain sebagainya. Karenanya para orang tua saat ini harus memastikan apakah anak-anaknya mampu mengambil keputusan yang baik dalambelanja dan bisa membedakan mana yang pantas dibeli dan mana yang tidak. Karenanya penting bagi orangtua untuk memberikan pemahaman yang benar tentang uang bagi anak sejak dini, sebelum presepsi salah masuk kedalam otaknya. Ada beberapa cara memberikan pemahaman tentang uang dan penggunaannya:

Pertama:

Mengajak mereka ikut dalam musyawarah keuangan keluarga, khususnya bagi anak pada usia mampu memahami pemasukan uang keluarga dan pengeluarannya. Hal ini agar ia tahu berapa banyak uang yang di miliki keluarga dan bagaimana membelanjakannya dengan baik sesuai kebutuhan yang penting bagi keluarga. Jika ia faham paling tidak ia tidak akan minta jajan lebih dari budget keuangan keluarga. Dengan demikian ia mengerti tentang kebersamaan dalam keluarga bahwa banyak kebutuhan bersama yang harus diutamakan daripada untuk dirinya sendiri.

Kedua:

Menjelaskan bahwa tidak semua yang di inginkan harus di beli. Ceritakan tentang perbandingan waktu orang tua kita dahulu dengan zaman sekarang, manusia pada kedua zaman tersebut tetap bisa bertahan hidup. Meski dulu serba kekurangan dan tidak instant tapi mereka tetap hidup bahagia. Mengapa kita tidak bisa menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk di beli?. Karenanya kita harus pastikan pentingnya kebutuhan barang yang dibeli anak agar terhindar dari pemborosan. Ketika kita hendak membeli kebutuhan keluarga, ajak anak dalam musyawarah untuk memilihdan membelinya agar mereka faham bahwa tidak semua yang kita lihat harus di beli, tapi kita harus pandai memilih yang terpenting.

Ketiga:

 Dalam memberikan uang pada anak ada dua hal penting: 1- jangan berikan uang jajan yang jumlah yang besar lebih dari kebutuhannya, agar ia tahu bahwa untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar itu sulit. 2- setiap anak mempunyai keunikan yang berbeda, masing-masing mempunyai keputusan dan persepsi yang berbeda pada uang jajan yang diberikan. Jangan menganggap semua anak sama jajanannya dengan anak yang lain, karena yang penting adalah mereka mengerti bagaimana membelanjakan uang dengan baik.

Memberikan uang jajan bertahap

Awalnya si kecil hanya faham bahwa uang hanyalah coin kecil yang diterima pada saat ia menginginkan sesuatu yang kecil. Namun lambat laun ia belajar dan mengetahui pentingnya uang, dari sini ia mulai meminta uang pada waktu dan jam tertentu dari harian, mingguan dan bulanan. Maka uang jajan yang mereka pegang meskipun sedikit tapi ia harus tahu:

  1. ada rasa tanggung jawab untuk membelanjakannya dengan baik.
  2. Memprioritaskan belanjaan yang penting.
  3. Menjauhi jajanan yang tidak penting dan uangnya ditabung.
  4. Sikap kebersamaan dan menjauhi sikap egois, berbagi dengan teman-teman terutama pada mereka yang tidak mampu.
  5. Berbagi pada sesama, uang yang diberikan orang tua bebas ia gunakan untuk semua kebaikan dengan perasaan senang dan cinta kepada orang lain.

                Adapun jajan yang diberikan kepada anak pastinya sesuai dengan keuangan keluarga, dan meskipun Allah memberikan pemasukan yang lebih tapi hendaknya tetap bersikap bijak dalam memberikan yang terbaik untuk masa depan anak.

Hal-hal yang harus dihindari dalam kebijakan-kebijakan pemberian uang pada anak:

  1. Jangan jadikan uang sebagai alat untuk hukuman atau ganjaran, agar anak tidak merasa bahwa uang adalah satu-satunya senjata yang dimiliki orang tuanya.
  2. Katakan “tidak” jikaanak minta uang jajan tambahan selain waktu yang biasa diberikan.
  3. Jadilah contoh yang baik dalam berbelanja, catat yang terpenting untuk dibeli dan jangan langgar apa yang sudah dicatat.
  4. Jangan bisakan memberikan upah atas pekerjaan rumah yang dilakukan. Karena rumah untuk semua dan semua bertanggung jawab akan keindahan dan kebersihan rumah, semua bekerja tanpa pamrih dalam rumah.
  5. Anak harus tahu bahwa uang jajan yang diberikan adalah semata hadiah yang harus digunakan sebaik mungkin

Oleh Ustadzah Dia Hidayati, M.A.

Ikhlash Dasar Segala Amal

Oleh. KH. Dr. Amir Faishol Fath, MA

            Kalimat berikutnya berbunyi : Wasaturadduuna ilaa ‘aalimil ghaib wasy syahadah, Ibn Abbas mengatakan, al ghaib yang dirahasiakan, dikerjakan secara sembunyi-sembunyi, dan asy syahadah yang dikerjakan secara terang-terangan. Imam Ar Razi berkata: al ghaib bisa dimaksudkan segala yang terdetik dalam hati berupa niat baik atau buruk, dan asy syahadah adalah segala perbuatan yang diragakan (lihat Imam Ar Razi, mafaatihul ghaib, vol. 16 h.194). dari sini nampak bahwa setiap perbuatan harus senantiasa serasi antara niat dan tingkah laku. Hilangnya keserasian ini akan melahirkan ketimpangan, kalau tidak dikatakan sia-sia sama sekali. Bila direnungkan secara mendalam panduan utuh antara fasayaraallahu amalakum, wasaturadduuna ilaa ‘aalimilghaibi wasy syahadah maka akan tergambar bahwa niat sebagai pengantar setiap perbuatan harus karena Allah dan untuk semata mencapai ridlaNya, karena Dialah yang akan menilainya.

Dengan demikian nampak bahwa setiap perbuatan terdiri dari dua unsur: niat yang mengantarkan dan perbuatan yang diragakan. Niat saja tidak cukup melainkan harus tercermin dalam perbuatan. Perbuatan pun harus sesuai dengan petunjukNya bukan karangan akal sendiri. Perbuatan apa pun yang tidak sesuai dengan petunjukNya (baca: kemaksiatan) sekalipun dihantarkan dengan niat yang ikhlash juga tidak akan diterima di sisiNya. Sebaliknya perbuatan yang benar-benar syariah, tapi niat yang menghantarkannya tidak ikhlash juga akan menggiring pada kecelakaan. Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyebutkan tiga orang yang bersama-sama melakukan perbuatan baik secara dzahir,tetepi karena niatnya salah akhirnya ketiga-tiganya sama-sama masuk neraka: pertama seorang berperang di jalan Allah dengan niat supaya dibilang pemberani, kedua, seorang mengajarkan Al Qur’an supaya dibilang alim, ketiga, seorang menginfakkan hartanya supaya dibilang dermawan (lihat Sahih Muslim, no. 1514). Ustadz Sayid Quthub mengatakan: Islam adalah manhaj yang realistis,gelora niat dan semangat tidak akan berdampak apa-apa sepanjang tidak diterjemahkan dalam gerakan nyata,memang diakui bahwa niat yang baik mempunyai posisi tertentu dalam Islam, tetapi niat saja belum cukup untuk membangun pahala, sebab ia akan dihitung setelah tercermin dalam bentuk perbuatan, begiti perbuatan muncul di sini peranan niat menentukan kwalitasnya, inilah makna hadits: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantujng niatnya” perhatikan dalam hadits ini perbuatan digabung dengan niat bukan niat saja. (Sayid Quthub, fii dzilail Qur’an, (Bairut, Darusy syuruq, 1985),vol. 3, h.1709).

Keikhlashan (sihhatun niyah) dan benarnya perbuatan (sihhatul amal) adalah inti utama yang sangat menentukan. Keduanya adalah cerminan dari seluruh rangkaian kata dan kalimat dalam ayat di atas. Ibarat dua sayap bagi seekor burung ikhlash dan kebenaran amal akan mengantarkan pelakunya kepada tujuan yang didambakan. Sudah barang tentu seekor burung tidak akan bisa terbang hanya dengan satu sayap. Perhatikan bagaimana Allah mengencam seorang yang tidak shalat, padahal shalat adalah ibadah yang sangat mulia dan utama dalam Islam hanya karena niatnya salah, Allah berfirman: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan)barang berguna (QS. 107: 4-7).

Amal Sebagai Bukti Kepribadian

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

Pada kalimat berikutnya Allah berfirman: fasayarallahu ‘amalakum, tidak ada sekecil apapun dari yang kita lakukan kecuali akan mendapatkan balasannya. Tidak ada kata yang terucap dari lidah, kecuali terekam secara lengkap: mayalfidzu minqaulin illa ladaihi raqibun atiid (QS.). Lebih kecil dari atom pun amal kita akan tetepmenjadi kredit poin dari perjalanan hidup kita. Bila perbuatan itu baik, simpanan amal baik kita di akhirat akan bertambah, dan bila perbuatan kita jelek, simpanan amal kita kan jelek. Famayya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah, wamayya’mal mistqaala dzarratin syarrayyarah. Jadi pribadi kita hanya ditentukan oleh kedua pilihan ini: Bila kita salah memilih kita akan sengsara selama-lamanya. Tapi bila pilihan kita benar, kita akan selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Itulah makna do’a yang selalu kita panjatkan: “rabbana aatina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannaar”(QS. 2:201).

Dengan menyadari hakikat ini, bila kita melakukan kebaikan, kita tidak akan risau,sekalipun tidak ada orang yang memuji kita. Bagi kita berbuat baik adalah cicilan membangun kebahagiaan akhirat. Apapun bentuk kebaikan tersebut. Kecil maupun besar, nampak hina di mata manusia atau tidak, dalam kesunyian maupun di tengah keramaian, menghasilkan uang atau tidak. Pribadi kita slalu nampak istiqamah, tidak beerwarna-warni. Popularitas bukan ukuran, karena hakikat fasayarallah amalakum telah terpatri sedemikian kuat dalam keyakinan kita. Bila jalan ini yang kita pilih, kita kan slalu produktif. Simpanan pahala kita akan selalu bertambah. Dan hidup kita akan selalu tenang, karena tabiat pahala tidak akan pernah mengantarkan kita kecuali kepada ketenangan hidup. Dari sisi ini nampak apa yang dikatakan Imam Ar Razi. Bahwa ayat ini merupakan taghriib (pendorong) bagi orang-orang yang taat kepada Allah untuk senantiasa beramal dan terus beramal .

Namun bila kita melakukan keburukan, Allah juga akan menyaksikannya fasayarallahu amalakum. Perlu digaris bawahi di sini bahwa keburukan dalam terminologi Islam tidak hanya identik dengan perzinaan, mabuk-mabukkan, pencurian, korupsi, dan lain sebaginya. Melainkan wudhu’ kita yang tidak sempurna, shalat yang asal-asalan itu juga kemaksiatan. Di hari kiamat kaki yang tidak dibasuh secara lengkap ketika berwudhu’ akan masuk neraka (HR Bukhari, no. 165). Shalat yang tidak sempurna bacaan dan gerakannya, tidak dianggap shalat. Rasulullah SAW.  pernah menyuruh sahabatnya untuk shalat lagi karena sebagian gerakannya tidak sempurna (HR. Bukhari, no. 757). Dalam berdakwahpun jika kita tidak melakukannya dengan penuh kesungguhan (baca: asal-asalan) itu juga kemaksiatan. Mengapa kita berbuat untuk Allah asal-asalan. Perhatikan, Allah senantiasa mengingatkan dalam Al Qur’an bahwa tidak ada di bumi dan langit dari ciptaanNya yang main-main. Semua Allah tegakkan dengan penuh kesempurnaan: Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu  cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah(QS. 67:3-4). Dari sini nampak bahwa ayat ini mengandung tarhiib (ancaman) bagi orang-orang yang tidak mentaati Allah sebagaimana mestinya.Az Zamakhsyari berkata: ayat ini merupakan ancaman sekaligus peringatan akan akibat yang harus mereka jalani jika terus menerus bergelimang dalam kemaksiatan (lihat Az Zamakhsyari, al kasysyaaf (Mansyratul balaghah) vol. 2, h.308).

Lalu mengapa Allah menambahkan setelahnya kalimat Warasulu wal mu’minun? Bukankah sudah cukup dengan kesaksian Allah? Imam Ar Razi mengutip jawaban Abu Muslim bahwa Rasulullah dan orang-orang mukmin adalah saksi yang Allah pilih. Wakadzalika jaalnakum ummatan wasathan (QS. 2:143).

Dalam ayat lain: fakaifa idzaa ji’na min kulli ummatin bisyahiidin wji’na bika alaa haaulaai syahiida (QS. 4:41) (lihat. Imam Ar Razi, mafatiihul ghaib: vol. 16, h.194). dalam riwayat Anas RA.  Diceritakan: Pernah suatu hari sebuah jenazah dibawa melewati sekelompok para sahabat Rasulullah SAW, mereka itu menyebutkan kebaikan si mayyit, Nabi menjawab: wajib. Setelah itu mayyit yang lain lagi dibawa, para sahabat yang melihatnya tidak memujinya, bahkan penilaiannya tidak baik, Nabi menjawab: wajib. Umar lalu bertanya: Apa maksud dari pernyataan wajib yang diucapkan Nabi? Nabi menjawab: Mayyit pertama yang kamu sebut kebaikannya wajib masuk surga, sementara mayyit kedua yang kamu sebut keburukannya wajib masuk neraka. Kamu semua adalah saksi Allah dibumi (HR. Bukhari, no, 181, Muslim, no. 949).

Amal Sebagai Inti Keimanan

oleh : KH. DR. Amir Faishol Fath, M.A.

             Kalimat wa quli’malu adalah perintah, yang berarti keharusan untuk beramal. Akidah tanpa amal akan menjadi kering, karena amal bagi akidah ibarat air bagi sebuah pohon. Pernyataan para ulama bahwa iman naik turun (yaziidu wayanqus) maksudnya ia naik dengan amal shaleh dan turun dengan kemaksiatan. Dalam diri seseorang cerminan akidahnya adalah amal yang ia lakukan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang selalu menggabung antara iman dan amal: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dala kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”  (QS. 103:2-3, lihat juga QS. 2:62, 5:69).

Dalam Surat Al Mu’minun, Allah menyebutkan tanda-tanda seorang yang beriman dengan amalnya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, menunaikan zakat, menjaga kemaluannya, kecual iterhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, serta memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang mewarisi”  (QS. 23:1-10).

Rasulullah SAW. Seringkali menyebutkan tanda-tanda keimanan dengan amal: Anas RA. Meriwayatkan Rasulullah bersabda: Seorang tidak disebut beriman  sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari, no.13). Imam Bukhari dalam buku Shahihnya menulis judul khusus: Bab man qaala innal iman huwal amal (orang yang mengatakan iman adalah amal), di dalamnya ia menyebutkan ayat: (QS. 43:72), dan hadits riwayat Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah SAW. Pernah ditanya, perbuatan apa yang paling utama: Beliau berkata: Iman kepada Allah dan RasulNya, kemudian apa? Haji mabrur (HR. Bukhari, no.26).

Ketika menjelaskan mengenai bagaimana seharusnya seorang muslim, Rasulullah tidak hanya menggambarkan hal-hal yang berkenaan dengan ibadah mahdlah (ritual), melainkan banyak hal yang berkaitan langsung dengan amal sosial: Ibn Amr meriwayatkan Rasulullah SAW. Bersabda: Seorang muslim adalah yang tidak pernah menyakiti orang muslim lainnya dengan lidah dan tangannya, dan seorang muhajir adalah yang hijrah dari larangan Allah SWT. (HR Bukhari,no. 10).Dalam sebuah peristiwa diceritakan bahwa seorang bertanya kepada Rasulullah SAW. mengenai apa yang terbaik dalam ber-Islam? Rasulullah menjawab: Kau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang lain, baik kamu kenal maupun tidak (HR Bukhari, no. 12).

Oleh. Dr. Amir Faishol Fath, MA